Pemimpin Separatis Yaman Hilang Usai Pesawatnya Tertunda, Saudi Lancarkan Serangan Udara

- Rabu, 07 Januari 2026 | 14:54 WIB
Pemimpin Separatis Yaman Hilang Usai Pesawatnya Tertunda, Saudi Lancarkan Serangan Udara

Rabu (7/1) kemarin, rencana perjalanan Aidarous al-Zubaidi berakhir kacau. Pemimpin separatis Yaman selatan itu gagal naik pesawat menuju Riyadh untuk perundingan krisis. Alih-alih terbang, ia justru menghilang. Keberadaannya sampai sekarang masih gelap.

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki al-Maliki, yang mengonfirmasi kejadian ini. Menurutnya, pesawat yang membawa sejumlah pimpinan senior Dewan Transisi Selatan (STC) sempat tertunda lebih dari tiga jam di bandara. Tapi yang menarik, pesawat itu akhirnya berangkat tanpa Zubaidi. Dia tidak ikut.

Nah, selama penundaan panjang itu, koalisi Saudi mendeteksi sesuatu yang mencurigakan. Ada pergerakan pasukan dalam skala besar, seruan mobilisasi mendadak, plus distribusi senjata ringan hingga menengah di lapangan. STC sendiri masih bungkam, belum ada tanggapan resmi soal ini.

Padahal, Zubaidi seharusnya terbang ke Arab Saudi untuk membahas konflik terbaru. Bulan lalu, bentrokan pecah di Yaman selatan antara pasukan STC yang didukung Uni Emirat Arab dengan pemerintah Yaman yang diakui internasional dan didukung Saudi. Perundingan yang sudah dijadwalkan itu kini digantung di awang-awang.

Bahkan situasinya makin runyam. Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi sudah mengambil langkah tegas: mencopot Zubaidi dari keanggotaan dan menyerahkan kasusnya ke jaksa. Tuduhannya berat: pengkhianatan.

“Zubaidi juga dituding menghasut pemberontakan bersenjata dan menyerang otoritas negara,” begitu bunyi pernyataan resmi mereka.

Krisis ini, mau tidak mau, membuka borok lama. Retaknya hubungan Saudi dan UEA dalam koalisi yang dibentuk lebih dari sepuluh tahun lalu untuk melawan Houthi kini kian jelas. STC sendiri dibentuk tahun 2017 dengan sokongan UEA, dan selama bertahun-tahun menjadi bagian dari pemerintahan Yaman. Tapi bulan lalu, semuanya berubah.

Pasukan STC tiba-tiba merebut wilayah luas di selatan. Gerakan itu mengubah peta kekuatan dan memicu ketegangan terbuka antara Riyadh dan Abu Dhabi. UEA pun menarik pasukannya dari Yaman, tak lama setelah Saudi menilai gerakan STC mengancam keamanan perbatasannya.

Di sisi lain, Rabu itu juga diwarnai aksi militer. Koalisi Saudi mengonfirmasi serangan udara terbatas di Provinsi al-Dhalea kampung halaman Zubaidi. Mereka bilang ini langkah pencegahan, setelah memantau pergerakan pasukan bersenjata yang meninggalkan basis mereka.

Menurut sejumlah saksi di lapangan dan sumber internal STC, serangan udara yang terjadi bukan cuma satu atau dua. Lebih dari lima belas kali serangan dilaporkan mengguncang provinsi tersebut. Suasana mencekam, dan nasib perundingan ke depan semakin tidak menentu.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar