Rabu (7/1) kemarin, rencana perjalanan Aidarous al-Zubaidi berakhir kacau. Pemimpin separatis Yaman selatan itu gagal naik pesawat menuju Riyadh untuk perundingan krisis. Alih-alih terbang, ia justru menghilang. Keberadaannya sampai sekarang masih gelap.
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki al-Maliki, yang mengonfirmasi kejadian ini. Menurutnya, pesawat yang membawa sejumlah pimpinan senior Dewan Transisi Selatan (STC) sempat tertunda lebih dari tiga jam di bandara. Tapi yang menarik, pesawat itu akhirnya berangkat tanpa Zubaidi. Dia tidak ikut.
Nah, selama penundaan panjang itu, koalisi Saudi mendeteksi sesuatu yang mencurigakan. Ada pergerakan pasukan dalam skala besar, seruan mobilisasi mendadak, plus distribusi senjata ringan hingga menengah di lapangan. STC sendiri masih bungkam, belum ada tanggapan resmi soal ini.
Padahal, Zubaidi seharusnya terbang ke Arab Saudi untuk membahas konflik terbaru. Bulan lalu, bentrokan pecah di Yaman selatan antara pasukan STC yang didukung Uni Emirat Arab dengan pemerintah Yaman yang diakui internasional dan didukung Saudi. Perundingan yang sudah dijadwalkan itu kini digantung di awang-awang.
Bahkan situasinya makin runyam. Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi sudah mengambil langkah tegas: mencopot Zubaidi dari keanggotaan dan menyerahkan kasusnya ke jaksa. Tuduhannya berat: pengkhianatan.
Artikel Terkait
Prabowo Berkelakar: Orang Bernama Prabowo Selalu Berprestasi
Gus Ipul Gandeng Daerah untuk Wujudkan Tiga Program Prioritas Kemensos
Mahathir, 100 Tahun, Pilih Rehabilitasi Usai Jatuh dan Patah Tulang Pinggul
Ade Darmawan Tanya Jalur Hukum Demokrat, Lupa Dulu Menyerang Duluan?