Ini masalah serius. Pemilih Kristen, termasuk umat Katolik, adalah pilar penting bagi Trump. Meski tidak rutin ke gereja, dia menang telak di kalangan ini pada 2024. Bahkan, setelah nyaris selamat dari upaya pembunuhan Juli lalu, sebagian pendukung Evangelis menganggapnya sebagai tanda bahwa Trump diberkati Tuhan.
Pilih Paus atau Presiden?
David Gibson dari Pusat Studi Agama dan Budaya di Universitas Katolik Fordham mengaku sulit memahami motif Trump. Tapi, dia ragu apakah umat Katolik AS akan langsung berbalik meninggalkan Trump.
"Apakah langkah ini akan sudah terlalu kelewatan bagi mereka? Ini adalah momen penentu, apakah umat Katolik Amerika akan memilih Paus atau Presiden?" ujar Gibson.
Uskup Robert Barron, yang pernah duduk di komisi kebebasan beragama bentukan Trump, meminta presiden itu meminta maaf kepada Paus Leo atas pernyataannya yang "tidak pantas". Namun dalam unggahan yang sama, Barron juga memuji upaya Trump menjangkau umat Katolik.
Permintaan maaf? Trump bersikukuh. "Saya tidak perlu meminta maaf," katanya kepada wartawan pada hari Senin itu.
Belakangan, Paus Leo memang jadi salah satu pengkritik paling lantang terhadap perang di Iran. Dia bahkan mendesak Trump mencari "jalan keluar" dari konflik.
Ketegangan yang Kian Dalam
Paus Leo berulang kali menegaskan bahwa Yesus tak bisa dipakai untuk membenarkan perang. Pernyataannya itu dianggap sebagai teguran untuk pejabat-pejabat Trump, seperti Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang pernah mengutip ayat Alkitab untuk membenarkan "kekerasan besar-besaran".
Ini bukan pertama kalinya Trump berselisih dengan Vatikan. Dia juga pernah berdebat dengan pendahulu Leo, Paus Fransiskus, yang menentang kebijakan deportasinya. Tahun 2025, setelah wafatnya Fransiskus, Trump bahkan sempat mengunggah gambar dirinya sebagai Paus yang tentu saja bikin marah banyak umat Katolik.
Tapi serangan kali ini dinilai jauh lebih keras. "Ini bukan sekadar perbedaan pendapat," kata Gibson. "Ini adalah penistaan dan itu bahaya besar bagi Trump."
Lalu, bagaimana dengan para politisi Katolik di sekeliling Trump? Setidaknya delapan anggota kabinetnya beragama Katolik, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Vance sendiri berusaha meredam kontroversi. Dalam wawancara dengan Fox News, dia bilang Trump cuma bercanda dengan mengunggah gambar itu. Menurutnya, Vatikan sebaiknya fokus pada isu-isu moral saja.
Perseteruan ini masih panas. Dan yang jelas, gambar AI sederhana itu telah membuka kotak Pandora baru dalam politik identitas dan agama di Amerika.
Artikel Terkait
Anggota DPR Habib Aboe Bakar Alhabsyi Minta Maaf ke Ulama Madura Soal Pernyataan Narkoba
Trump Kritik Pedas PM Italia Meloni Soal Sikap Netral dalam Konflik Iran
Kelangkaan Gas Elpiji Melanda Pasuruan Diduga Imbas Konflik Timur Tengah
Baleg DPR Kaji Dampak Putusan MK Soal Wewenang Eksklusif BPK Hitung Kerugian Negara