Gubernur Jateng Kukuhkan Pengurus Dekopinwil, Pacu Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Desa

- Selasa, 14 April 2026 | 14:45 WIB
Gubernur Jateng Kukuhkan Pengurus Dekopinwil, Pacu Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Di Wisma Perdamaian, Semarang, suasana cukup hangat. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, baru saja mengukuhkan pengurus baru Dekopinwil provinsi itu. Dalam pidatonya, ia menekankan satu hal: koperasi bukan sekadar lembaga. Ia harus jadi hub pendampingan yang solid untuk ekonomi rakyat.

“Perannya sebagai alternatif pembiayaan yang lebih sehat itu penting,” ujarnya. Terutama untuk mendongkrak pelaku usaha mikro agar bisa naik kelas.

“Pengurus telah terbentuk. Dengan adanya pengurus yang baru ini, rekan-rekan bisa mewarnai, agar koperasi di Jateng jadi cikal bakal kemakmuran masyarakat,” kata Luthfi, Selasa (14/4/2026).

Harapannya jelas. Ia ingin koperasi jadi gerakan bersama untuk membangun kesejahteraan dan keadilan.

Angkanya sendiri cukup menggambarkan potensi yang ada. Data Dinas Koperasi dan UKM Jateng mencatat ada 19.022 koperasi aktif. Jumlah anggotanya luar biasa, lebih dari 6,8 juta orang. Asetnya menembus Rp 60,13 triliun dengan volume usaha hampir Rp 44 triliun. Yang menarik, imbal hasil untuk anggota tercatat Rp 1,16 triliun. Ini bukan angka main-main.

Di sisi lain, ada juga gerakan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih atau KDKMP. Dari total 8.523 unit di Jawa Tengah, sekitar 6.271 sudah beroperasi. Bahkan, 1.466 unit di antaranya sudah punya gerai fisik sebagai pusat aktivitas ekonomi.

“Ini penting karena merupakan penguatan ekonomi di desa,” tegas Luthfi.

Ke depan, ia membayangkan KDKMP bisa berkembang lebih jauh. Bukan hanya toko, tapi jadi pusat distribusi logistik dan lumbung pangan lokal. Harapannya, Koperasi Merah Putih segera bergerak memperkuat denyut nadi ekonomi desa.

Tak hanya gubernur, Menteri Koperasi Ferry Juliantono yang hadir juga memberi amanat. Ia bilang, tugas Dekopinwil Jateng tidak ringan. Mereka harus seirama dengan Kementerian Koperasi untuk benar-benar menghidupkan aktivitas koperasi di akar rumput.

“Amanah ini menjadi tidak ringan karena Dekopin adalah satu tarikan napas yang harus sama dengan Kemenkop,” ujar Ferry.

Menurutnya, Jawa Tengah sudah menonjol dalam pengembangan koperasi, terutama soal percepatan pembentukan badan hukum KDKMP. Tapi sekarang, waktunya masuk ke tahap yang lebih konkret. Operasionalisasi harus berjalan, kolaborasi usaha harus dikembangkan. Dampaknya harus langsung terasa di kantong warga.

Caranya? Salah satunya dengan memprioritaskan produk UMKM lokal Jateng untuk mengisi rak-rak gerai koperasi desa.

Ferry punya ide yang lebih luas. Gerakan koperasi, katanya, harus merambah ke sektor produksi. Mulai dari kebutuhan harian seperti sabun, sampo, deterjen, sampai sambal.

“Kita bisa belajar buat sendiri. Itu bisa menghidupkan industri kecil dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Jateng serta menjadi terobosan untuk memecahkan berbagai masalah di masyarakat,” paparnya.

Intinya, kolaborasi dari hulu ke hilir. Dari produksi hingga pascaproduksi. Agar efek ekonominya benar-benar menyebar, dan koperasi jadi pintu masuk menghidupkan industri kecil daerah. Semangatnya satu: dari desa, untuk kemakmuran bersama.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini