Di sektor energi, pemerintah terus mendorong kebijakan B50 dan pengembangan energi terbarukan. Sementara APBN difungsikan sebagai "peredam kejut" melalui berbagai bansos untuk masyarakat miskin. Hingga Maret 2026, cerah juga datang dari penerimaan pajak yang tumbuh 14,3 persen year-on-year, setara dengan Rp 462,7 triliun.
"Dan jika Anda melihat cadangan devisa masih sekitar USD 148,2 miliar, itu setara dengan enam bulan impor,"
tambah Airlangga.
Indikator sosial pun menunjukkan tren membaik. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan jadi 8,25 persen, kesenjangan turun ke level 0,363, dan pengangguran ada di angka 4,7 persen.
Soal utang pemerintah? Rasionya kini di angka 40,46 persen terhadap PDB, atau sekitar Rp 9.637,9 triliun. Namun begitu, Airlangga menegaskan bahwa risiko guncangan dari luar tetap bisa dikendalikan. Alasannya sederhana: sebagian besar pinjaman berasal dari dalam negeri.
"Jika Anda melihat detail utang kita, sebagian besar berasal dari dalam negeri. Jadi, risiko guncangan eksternal terkendali,"
tutupnya.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Anwar Usman Purnabakti dari MK: Setiap Putusan Menambah Musuh
Pemutakhiran Data Bansos 2026: 11.014 Keluarga Dicoret, 25.665 Ditambahkan
Kemensos Gandeng Perusahaan Jepang Siapkan Lulusan Sekolah Rakyat Jadi Caregiver
AS dan Indonesia Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan Jadi Kemitraan Utama