Sebelumnya, Trump memang meledak. Ia menyebut Paus Leo "sangat buruk untuk kebijakan luar negeri" setelah sang Paus mengecam perang antara AS dan Iran. Kritik Trump terdengar keras dan penuh emosi.
"Kita tidak menyukai Paus yang bilang punya senjata nuklir itu boleh-boleh saja. Dia ini orang yang kayaknya nggak mikir bahwa kita harus berhadapan dengan negara yang pengen banget punya nuklir, biar mereka bisa hancurkan dunia," kata Trump.
Dan ia menutup dengan kalimat yang tak menyisakan keraguan: "Saya bukan penggemar Paus Leo."
Jadi, di satu sisi ada pemimpin negara adidaya yang bicara blak-blakan. Di sisi lain, ada pemimpin spiritual yang memilih jalan damai dan menolak untuk masuk ke dalam arena perang kata-kata. Paus Leo, yang kebetulan berasal dari AS sendiri, justru menunjukkan sikap yang berbeda jauh. Ia lebih memilih fokus pada misinya, ketimbang membalas cercaan.
Artikel Terkait
Anwar Usman Purnabakti dari MK: Setiap Putusan Menambah Musuh
Pemutakhiran Data Bansos 2026: 11.014 Keluarga Dicoret, 25.665 Ditambahkan
Kemensos Gandeng Perusahaan Jepang Siapkan Lulusan Sekolah Rakyat Jadi Caregiver
AS dan Indonesia Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan Jadi Kemitraan Utama