Pemerintah Jawa Barat patut berbangga. Di tahun 2025, capaian pembangunan daerah mereka dinilai cukup solid oleh Kementerian Dalam Negeri, dengan skor akhir 3,6672. Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, tapi punya dampak nyata. Dua hal yang paling terasa: kemiskinan dan pengangguran di Jabar berhasil ditekan.
Menurut data BPS, persentase penduduk miskin di provinsi itu pada 2025 tercatat 6,78 persen, atau sekitar 3,55 juta jiwa. Memang, jumlahnya masih besar. Namun begitu, ada tren positif. Angka ini turun dibandingkan kondisi setahun sebelumnya yang berada di level 7,08 persen.
Wakil Gubernur Jabar, Erwan Setiawan, membeberkan strategi mereka. Menurutnya, Pemprov tak hanya fokus pada satu pendekatan. Upaya pengentasan kemiskinan dilakukan lewat tiga cara: mempersempit kantong-kantong kemiskinan, meringankan beban pengeluaran warga, dan tentu saja, mendongkrak pendapatan.
“Pemda Provinsi Jawa Barat membiayai iuran jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin sehingga dapat menekan pengeluaran masyarakat miskin,” jelas Erwan dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/4/2026).
Di lapangan, langkah-langkahnya lebih konkret. Untuk mengawasi daerah rawan pangan, misalnya, mereka menyusun peta kerawanan. Sementara untuk membantu daya beli, Gerakan Pangan Murah digelar hampir 1.900 kali sepanjang tahun, menyebar di 27 kabupaten dan kota. Operasi Pasar Bersubsidi juga jadi andalan agar harga komoditas pokok tetap terjangkau.
Lalu, bagaimana dengan meningkatkan pendapatan? Di sini, pelatihan bagi calon pekerja migran menjadi salah satu jalannya. Tak hanya itu.
Artikel Terkait
Konektivitas Jalan Nasional dan Tol Terjaga Saat Mudik 2026, Kesenjangan di Kawasan Timur Jadi Tantangan
Kecelakaan Maut di Jalan Bomang, Satu Pengendara Motor Tewas
Pengemudi Ojol dan Tukang Parkir di Pamulang Berdamai Usai Cekcok Soal Jaket
VinFast Perpanjang Program Sewa Mobil Listrik untuk Sopir Taksi Online di Indonesia dan Filipina