Maka, pada suatu Rabu malam di awal April, Santi benar-benar tiba di Desa Biji Nangka, Kecamatan Sinjai Borong. Ia tak sendirian. Temannya, Sintia (15), ikut serta dan juga menyamar sebagai pria dengan nama Rifki. Namun begitu kaki menginjakkan tanah di rumah Alda, mimpi indah mereka langsung diuji. Sang nenek, yang mewakili keluarga, langsung menyodorkan permintaan uang panai sebesar Rp 250 juta.
"Pas datang diminta ki sama neneknya uang panai Rp 250 juta, keduanya tidak sanggupi, makanya batal,"
ungkap Abdul Rauf lagi, menceritakan momen genting yang menggagalkan semua rencana.
Terpojok dan jelas tak mampu memenuhi permintaan fantastis itu, Santi dan Sintia memilih pergi. Mereka meninggalkan desa itu menuju kampung lain, dengan hati pasti serasa tertohok. Rencana pernikahan yang dibangun lewat kebohongan pun akhirnya buyar.
Keesokan harinya, nenek Alda melaporkan kejadian aneh ini kepada kepala dusun. Laporan itu dibuat pada Jumat pagi, menandai akhir dari sebuah drama percintaan yang penuh dengan penyamaran dan akhirnya, kenyataan pahit.
Artikel Terkait
Persib Hadapi Ujian Berat dari Bali United di GBLA, Perjuangkan Puncak Klasemen
DPD Soroti Peran Strategis Perempuan Bentuk Karakter Bangsa di Era Digital
Satu Hilang Diterjang Arus Usai Kecelakaan di Jembatan Sungai Pelus Banyumas
Iran Sebut Kegagalan Perundingan dengan AS di Islamabad Wajar karena Tingginya Ketidakpercayaan