TEHERAN Dari Teheran, suara yang keluar justru terdengar lebih seperti kenyataan pahit ketimbang kekecewaan. Kegagalan perundingan dengan Amerika Serikat di Islamabad, kata pemerintah Iran, adalah hal yang wajar. Sangat wajar. Bagaimana tidak? Isu yang dibahas begitu kompleks, sementara tingkat ketidakpercayaan antara kedua negara ini sudah sedemikian tinggi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menggambarkan suasana pembicaraan itu penuh dengan kecurigaan. Bayangan konflik 40 hari yang baru saja terjadi seolah masih menggantung di ruang perundingan.
“Pembicaraan ini berlangsung dalam atmosfer yang tidak hanya dipenuhi ketidakpercayaan, tetapi juga keraguan setelah perang selama 40 hari,”
Ujarnya kepada televisi pemerintah Iran, Minggu (12/4/2026).
Menurut Baqaei, mustahil berharap terlalu banyak. Mengharapkan sebuah kesepakatan lengkap hanya dari satu kali pertemuan? Itu sama sekali tidak realistis. “Wajar jika tidak ada kesepakatan yang dicapai dalam satu pertemuan. Tidak ada yang memiliki ekspektasi seperti itu,” tambahnya, seperti dikutip Antara.
Agendanya sendiri memang berat. Bukan cuma soal program nuklir, tapi juga lalu lintas di Selat Hormuz yang vital, pencabutan sanksi ekonomi yang mencekik, reparasi kerusakan perang, hingga upaya menghentikan konflik di seluruh kawasan. Daftar panjang yang butuh waktu dan komitmen luar biasa.
Artikel Terkait
Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Julio, Lepas dari Kenakalan Remaja
Buku Boni Hargens Diapresiasi sebagai Rujukan Politik Era Digital
Bareskrim Tetapkan Tiga Tersangka dan Sita Rp150 Miliar Emas dalam Kasus Perdagangan Ilegal Senilai Rp25,9 Triliun
Kuota Haji Papua Dipangkas, Waktu Tunggu Membengkak Jadi 28 Tahun