“Kami menyediakan fasilitas pendukung seperti perangkat dengan aksesibilitas, aplikasi pembantu, serta pendampingan dari pengawas yang telah memahami kebutuhan peserta ABK,” tambahnya.
Pengalaman yang Penuh Makna
Bagi peserta seperti Heri Gunawan, momen TKA ini benar-benar berkesan. Sebagai peserta tunanetra dari PKBM Guna Persada, ia merasakan campuran rasa gugup dan kepuasan usai tes. “Rasanya cukup deg-degan, tapi puas juga bisa menyelesaikannya,” ungkapnya.
Persiapannya pun tak main-main. Heri mengandalkan buku braille, audio digital, dan tentu saja bimbingan guru. Dukungan pendidik, katanya, sangat penting untuk memahami materi.
Tapi tantangan tetap ada. Soal-soal berbasis visual jadi hal yang paling menantang baginya. “Yang paling menantang itu soal yang berkaitan dengan gambar dan istilah matematika yang belum familiar,” jelas Heri.
Pendampingan selama tes juga ia soroti. Menurutnya, menggunakan laptop untuk ujian akan cukup sulit tanpa bantuan. “Kalau tidak ada pendamping, cukup sulit karena soal harus dibacakan terlebih dahulu,” katanya.
Meski begitu, ia merasa fasilitas yang disediakan sudah cukup membantu dan membuatnya nyaman.
Di Bandung, lebih dari seratus PKBM tersebar dengan peserta didik yang tak hanya dari dalam kota. Pelaksanaan TKA di pendidikan kesetaraan memang punya tantangannya sendiri: mulai dari kesiapan infrastruktur, SDM, hingga penyesuaian untuk ABK.
Namun begitu, dukungan pemerintah melalui pedoman, pelatihan, dan fasilitasi sarana terus dioptimalkan. Tujuannya satu: memastikan semuanya berjalan dengan baik dan adil bagi setiap pelajar.
Artikel Terkait
Brimob Polda Metro Jaya Amankan Empat Orang dan 25 Gram Narkoba dalam Patroli Cipta Kondisi
Poco X8 Pro Series Terjual Lebih dari 30.000 Unit dalam 24 Jam di Indonesia
BMKG Prediksi El Nino Lemah hingga Moderat, Pemerintah Siapkan Antisipasi Kekeringan
Polri Tangkap Ki Bedil, Ahli Senpi Ilegal yang Beroperasi 20 Tahun