Dia seolah tak ingin ada keraguan. Militer AS, menurutnya, sudah bersiap dengan senjata paling mutakhir. Persiapan itu bukan untuk pamer, melainkan untuk sebuah kemungkinan buruk: gagalnya meja perundingan.
Trump menegaskan kembali. Lalu, dia menyempurnakan ancamannya dengan kalimat penutup yang dingin.
Jadi, inilah situasinya. Di satu sisi, ada delegasi yang terbang untuk berdiplomasi. Di sisi lain, ancaman perang total justru menggema dari rumah sendiri. Sebuah kontras yang tajam, dan membuat masa depan perundingan ini terasa sangat tidak pasti.
Artikel Terkait
Dukungan untuk Menlu Sugiono Menguat di Munas IPSI
KPK Tangkap dan Tahan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Terkait Dugaan Pemerasan
BMKG Prediksi Hujan Ringan Guyur Jakarta Siang hingga Sore Ini
Analis: Ancaman Penghancuran Total Trump ke Iran Berpotensi Picu Serangan Spektrum Luas