"Kalau data tidak jelas, ya potensi sengketanya tinggi. Patok tanah bisa aja berpindah semalaman," kata Khofifah menekankan pentingnya dua gerakan tadi.
Di sisi lain, Kepala Kantor Wilayah BPN Jawa Timur, Asep Heri, melihat kolaborasi ini sebagai langkah strategis. "Kita merancang punya tambahan SDM, dengan melibatkan unsur sosial keagamaan seperti NU dan Muslimat NU," ungkap Asep.
Rencananya, para relawan 'laskar karomah' itu akan segera dikumpulkan untuk dibina. Pelatihannya rencananya digelar di Pacet, Mojokerto. "Mereka akan dibekali agar paham apa yang harus dikerjakan di lapangan," tambahnya.
Nanti, tugas relawan akan dibagi dua peran. Ada yang fokus ke data fisik seperti pasang patok dan ukur tanah. Sementara kelompok lain akan urus data yuridis: mengumpulkan bukti-bukti kepemilikan. Cakupannya luas, mulai dari hak milik biasa, tanah wakaf, sampai aset tempat ibadah semua agama.
Jadi, upaya Jatim ini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, mengejar target administratif. Di sisi lain, menyentuh persoalan paling riil di masyarakat: konflik batas tanah yang sering berujung panjang. Waktulah yang akan membuktikan efektivitas gerakan partisipatif ini.
Artikel Terkait
Hino Perkenalkan Truk Pemadam Kebakaran Berbasis Sasis 300 Series di GIICOMVEC 2026
Baznas Gelar Turnamen Padel untuk Kumpulkan Dana Bencana Sumatera
Dua Perempuan Diamankan Polisi Diduga Lakukan Sumpah dengan Menginjak Al-Quran
Barcelona Hadapi Espanyol dalam Derby Catalunya, Usai Tekuk di Liga Champions