JAKARTA Kondisi pasar keuangan kita sedang mendapat sorotan. Ini menyusul langkah beberapa lembaga pemeringkat global, seperti Moody's dan Fitch, yang menurunkan prospek ("outlook") rating kredit Indonesia ke arah negatif. Suasana ini rupanya memantik komentar tajam dari Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun.
Menurutnya, ada yang perlu dibenahi dalam cara komunikasi para pengambil kebijakan sektor keuangan. Dia lantas membandingkan dengan periode sebelumnya.
"Periode sebelumnya Kementerian Keuangan sangat mendominasi, dan Menteri Keuangan sebelumnya juga mendominasi informasi," ujar Misbakhun dalam acara Outlook Indonesia 2026 di Menara Bank Mega, Selasa (7/4/2026).
Politisi Golkar itu bahkan menyatakan keyakinannya. "Saya yakin kalau Moody's, Fitch dan S&P, semua lembaga "rating" itu tidak akan menurunkan "outlook"-nya kalau menteri keuangannya sama."
Pernyataan ini secara tak langsung menyentuh pergantian Menkeu dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa pada September 2025 lalu. Misbakhun mempertanyakan, mengapa justru setelah pergantian itu, prospek negatif datang dari para lembaga pemeringkat?
Di sisi lain, dia melihat adanya fenomena yang menarik. Ada segelintir orang, sebut saja "deep state", yang dinilainya terlalu nyaman dengan kondisi lama dan enggan berubah. Padahal, perubahan justru diperlukan, terutama untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Artikel Terkait
Kejaksaan Agung Luncurkan Aplikasi Jaga Desa dan Jaga Dapur MBG untuk Tekan Korupsi Dana Desa
Dealer Honda Luncurkan Promo Kartini dengan Diskon dan Voucher Oli di Jakarta-Tangerang
Pengendara Motor Tabrak Truk Mogok di Bogor, Korban Luka Ringan
IHSG Melonjak 2,89%, Mayoritas Saham Justru Tertekan