Minggu pagi (11/1) di TPU Karet, Jakarta, suasana terasa khidmat. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tampak berdiri di antara nisan-nisan, fokusnya tertuju pada satu pusara. Itulah makam Mohammad Husni Thamrin, pahlawan nasional yang perjuangannya tak lekang waktu. Tak sendirian, Pramono datang bersama sederet tokoh Betawi untuk berziarah dan mengenang jasa sang tokoh.
Kalau dilihat, rombongannya memang berisi wajah-wajah yang tak asing. Ada Nachrowi Ramli, Sylviana Murni, bahkan mantan Gubernur DKI, Fauzi Bowo, turut hadir. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas. Ini lebih pada bentuk penghormatan mendalam untuk Thamrin, seorang pejuang gerakan nasional yang darah Betawinya tak pernah diragukan.
Acara dibuka dengan doa bersama di sisi makam. Hening sejenak, lalu Gubernur Pramono Anung bersama yang lain mulai menaburkan bunga. Rangkaian bunga itu bukan cuma hiasan. Lebih dari itu, ia adalah simbol pengikat memori akan perjuangan seorang lelaki yang semasa hidupnya vokal sekali membela rakyat kecil, khususnya warga pribumi dan Betawi, di tengah cengkeraman penjajahan.
Menurut sejumlah saksi, anggota keluarga besar Betawi juga memadati lokasi. Mereka datang dengan caranya sendiri untuk turut merawat ingatan.
Memang, nama M.H. Thamrin sudah melegenda. Sepak terjangnya di kancah pergerakan nasional, terutama memperjuangkan keadilan sosial dan hak-hak rakyat, telah tercatat rapi dalam sejarah. Warisannya pun masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Coba saja lihat, salah satu jalan arteri utama di ibu kota menyandang namanya: Jalan M.H. Thamrin. Itu bukti sederhana bahwa jasanya tak pernah benar-benar pergi.
Artikel Terkait
11 Jembatan Darurat Selesai, Akses Aceh yang Terputus Banjir Mulai Pulih
Ribka dan Risma Laporkan Aksi Kemanusiaan PDIP di Tengah Rakernas
Gus Ipul: Santunan Korban Meninggal Sudah Cair, Data Luka Berat Masih Ditunggu
Hujan Tak Kenal Ampun, Jalan Nasional Sukabumi Tertimbun Longsor