Bagi banyak pelajar di Indonesia, duduk di bangku Universitas Gadjah Mada adalah sebuah cita-cita. Tapi, sebelum mimpi itu jadi kenyataan, ada satu hal krusial yang mesti dipahami: soal Uang Kuliah Tunggal atau UKT. Nah, sistem UKT di UGM ini memang dirancang khusus. Besarannya nggak seragam, lho, tapi disesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga masing-masing mahasiswa. Tujuannya jelas, agar siapa pun punya kesempatan yang sama untuk menimba ilmu di kampus ternama ini.
Selain UKT, calon mahasiswa juga perlu cek apakah program studinya dikenakan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) di luar biaya semester. Tapi, sebelum kita bahas lebih detail soal angka-angka, ada baiknya kita mengenal lebih dekat dulu profil universitas yang satu ini.
Mengenal UGM Lebih Dekat
UGM bukan sekadar kampus biasa. Lahir di tengah gejolak revolusi kemerdekaan, universitas ini dari awal diemban misi sebagai pusat ilmu dan kebudayaan nasional. Awalnya, UGM adalah hasil penyatuan beberapa sekolah tinggi yang tersebar di Yogyakarta, Solo, dan Klaten. Penggabungan itu akhirnya dikukuhkan lewat Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, yang jadi landasan hukum berdirinya "Universitas Negeri Gadjah Mada".
Meski tanggal resminya 16 Desember 1949, UGM justru merayakan hari jadinya setiap 19 Desember. Kenapa? Tanggal itu punya ikatan emosional yang dalam dengan peristiwa sejarah penting bangsa. Nama Gadjah Mada sendiri dipilih untuk meneladani semangat sang Mahapatih yang berhasil mempersatukan Nusantara. Semangat itulah yang kemudian jadi jiwa UGM: sebagai universitas perjuangan, universitas kerakyatan, dan pusat kebudayaan.
Di masa-masa awal, perkuliahan bahkan sempat memanfaatkan ruang di lingkungan Keraton Yogyakarta. Bayangkan saja. Baru pada 1951 pembangunan kampus di Bulaksumur mulai digarap. Perkembangannya cukup pesat. Memasuki tahun 60-an, UGM sudah punya rumah sakit, pemancar radio, dan berbagai fasilitas penunjang lain.
Sekarang? UGM telah bertransformasi jadi salah satu kampus terbesar dan terkemuka. Dengan 18 Fakultas, ditambah Sekolah Pascasarjana dan Sekolah Vokasi, pilihan program studinya sangat beragam. Kampus ini terus berusaha tetap relevan menjawab kebutuhan zaman.
Rincian UKT S1 dan D4 UGM untuk 2026
Nah, ini dia yang paling banyak ditunggu: daftar UKT. Berikut rincian untuk jenjang Sarjana dan Sarjana Terapan di tahun 2026, yang kami rangkum dari informasi resmi.
Beberapa Contoh Fakultas dan Prodinya
Mari kita lihat beberapa fakultas sebagai contoh. Untuk Fakultas Biologi, prodi Biologi mengenakan UKT mulai dari Rp 3.075.000 untuk Golongan 3, hingga Rp 12.300.000 untuk Golongan 6. Sementara Golongan 1 dan 2 dibebaskan.
Kalau kamu tertarik dengan dunia bisnis, Fakultas Ekonomika dan Bisnis punya kisaran yang berbeda. Untuk prodi Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi, UKT dimulai dari Rp 2.300.000 (Golongan 3) sampai Rp 9.200.000 (Golongan 6).
Fakultas yang populer seperti Kedokteran, tentu saja punya kisaran yang lebih tinggi. Untuk prodi Kedokteran dan Keperawatan, angkanya mulai dari Rp 6.175.000 hingga Rp 24.700.000. Sama halnya dengan prodi Kedokteran Gigi.
Di sisi lain, fakultas seperti Filsafat atau Ilmu Budaya menawarkan UKT yang relatif lebih terjangkau. Prodi Filsafat, misalnya, dimulai dari Rp 1.889.000. Sementara beberapa prodi di Ilmu Budaya seperti Sastra Jawa atau Prancis dimulai dari Rp 1.900.000 untuk Golongan 3.
Perlu diingat, ini hanya sebagian contoh. Setiap fakultas, bahkan seringkali setiap prodi, punya besaran UKT yang berbeda-beda. Jadi, pastikan kamu mengecek informasi yang paling spesifik sesuai dengan pilihan studi yang kamu minati.
Intinya, sistem UKT ini hadir untuk memberi kemudahan. Dengan skema berjenjang, diharapkan tidak ada lagi calon mahasiswa berbakat yang terhalang masuk UGM hanya karena kendala biaya. Semua punya peluang yang sama.
Artikel Terkait
Persib Bandung Juara Super League 2025-2026 Usai Kalahkan Borneo FC Lewat Aturan Head to Head
Prabowo Tegaskan Komitmen Perkuat Kedaulatan Pangan dan Hentikan Kebocoran Kekayaan Negara
Polisi Amankan Ratusan Bobotoh di Cianjur karena Bawa Sajam dan Mabuk Saat Konvoi Kemenangan Persib
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Telah Tiba di Arab Saudi, Kemenhaj Fokus Siapkan Layanan Puncak Armuzna