Ancaman Trump ke Iran Picu Kenaikan Harga Minyak dan Tekan Bursa AS

- Senin, 06 April 2026 | 09:15 WIB
Ancaman Trump ke Iran Picu Kenaikan Harga Minyak dan Tekan Bursa AS

Wall Street tampaknya akan memulai pekan dengan sentimen yang muram. Pada Minggu malam, kontrak berjangka indeks saham AS bergerak turun. Tekanan ini datang bersamaan dengan melonjaknya harga minyak, dipicu oleh ancaman terbaru dari mantan Presiden Donald Trump terhadap Iran.

Menurut data dari Investing.com, kontrak berjangka S&P 500 sedikit melemah 0,3 persen ke level 6.603,0 poin. Nasdaq 100 ikut turun 0,2 persen menjadi 24.175,75 poin. Sementara itu, Dow Jones mengalami penurunan yang sedikit lebih dalam, yakni 0,4 persen ke posisi 46.535,0 poin.

Penurunan ini menginterupsi momentum positif yang baru saja dibangun. Ingat, pekan lalu pasar justru ditutup dengan kinerja yang cukup kuat. Investor ramai-ramai memburu saham-saham yang harganya sempat terpukul akibat volatilitas terkait konflik Iran. Hasilnya? Dow naik 3,0 persen, S&P 500 melesat 3,4 persen, dan Nasdaq Composite bahkan meroket 4,44 persen. Itu adalah kenaikan mingguan pertama setelah enam minggu penuh tekanan bagi ketiga indeks utama itu.

Namun begitu, suasana hati pasar berubah lagi. Pemicunya datang dari unggahan Trump di akun Truth Social miliknya. Dalam postingan itu, dia memberi ultimatum kepada Iran.

Trump mengatakan Iran menghadapi tenggat waktu hingga pukul 8.00 malam Waktu Bagian Timur pada Selasa untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Kalau tidak dipenuhi, dia mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut. Ancaman inilah yang langsung mendinginkan sentimen dan mengembalikan kekhawatiran akan eskalasi geopolitik yang lebih luas.

Dampaknya langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak, misalnya, melonjak lebih dari dua persen dalam perdagangan Asia hari Senin. Lonjakan ini melanjutkan kenaikan yang sudah terjadi pekan lalu. Para pedagang jelas waswas mereka memperhitungkan potensi gangguan pasokan yang bisa berlarut-larut melalui Selat Hormuz, yang notabene adalah salah satu jalur pengiriman energi paling vital di dunia.

Jadi, setelah sempat bernafas lega, investor kini kembali menatap layar dengan cemas. Mereka menunggu perkembangan selanjutnya dari Timur Tengah, sambil berharap ketegangan ini tidak benar-benar meledak.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar