Menurutnya, kerusakan alam yang kita saksikan bukanlah hal yang berdiri sendiri. Itu semua berakar dari keserakahan dan hilangnya solidaritas antar manusia.
Kardinal lalu memperluas pemahaman tentang ekologi integral. Ini bukan cuma persoalan teknis seperti listrik, sampah, atau menanam pohon. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai ekosistem dunia yang utuh. Dan keserakahan, baik perorangan maupun berbangsa, adalah racun yang mengganggu peradaban.
Di sisi lain, Paskah sendiri ia gambarkan sebagai perjalanan dari kegelapan menuju titik terang. Dalam konteks tantangan dunia saat ini, ia mengajak umat untuk tak menyerah.
Misa pun berakhir. Umat beranjak keluar dengan wajah tenang, membawa serta pesan kebangkitan yang kali ini berwarna hijau sebuah seruan untuk menjaga bumi, rumah bersama.
Artikel Terkait
Iduladha 2026 Diprediksi 27 Mei, Berpotensi Ciptakan Libur Panjang
Banjir Bandang di Angola Tewaskan 15 Orang dan Rendam Ribuan Rumah
Lebaran Betawi ke-18 Digelar di Lapangan Banteng April 2026
Serangan Udara Israel di Beirut Selatan Tewaskan 4 Orang, Luka 30