Kardinal Suharyo: Gereja Katolik Prioritaskan Perdamaian Dunia dan Ekologi Integral

- Minggu, 05 April 2026 | 14:35 WIB
Kardinal Suharyo: Gereja Katolik Prioritaskan Perdamaian Dunia dan Ekologi Integral

Di tengah hiruk-pikuk konflik yang terus berkecamuk di Timur Tengah, Gereja Katolik menempatkan isu perdamaian dunia sebagai prioritas utama. Penegasan ini disampaikan langsung oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo. Arah ini, menurutnya, sejalan betul dengan visi kepemimpinan Paus Leo XIV.

“Sejak awal, pesan itu sudah jelas,” ujar Kardinal Suharyo.

Ia mengingatkan, momen pertama Paus tampil di mimbar Basilika Santo Petrus diwarnai dengan doa agar damai Tuhan menyertai seluruh dunia. “Itu artinya, beliau sungguh-sungguh ingin menyatakan bahwa masa kepemimpinan pelayanan sebagai Paus akan mengusahakan perdamaian,” tegasnya.

Pernyataan itu disampaikannya usai memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral, Minggu (5/4/2026).

Menurut sejumlah saksi, nada Paus belakangan ini memang keras. Terkait konflik global, Paus disebut menyampaikan pernyataan yang tegas bahkan terbilang keras. Doa dari para pemimpin yang justru memaklumkan perang, kata Paus, tak akan didengarkan oleh Tuhan.

“Kata-kata keras sekali,” ungkap Kardinal Suharyo mengenai hal itu.

Di sisi lain, ia sendiri menilai perang yang terjadi saat ini jelas-jelas melanggar hukum internasional. Nilai-nilai yang selama ini dijunjung tinggi oleh PBB pun seperti diinjak-injak. Dampaknya? Sangat buruk. Bukan cuma bagi bumi, tapi terlebih bagi umat manusia yang merasakan penderitaan langsung.

Harapan agar konflik mereda sebelum Paskah mungkin belum terwujud. Namun begitu, Paus tak berhenti mengajak umat Katolik di mana pun untuk terus mendoakan perdamaian setiap harinya.

Dalam refleksinya, Kardinal Suharyo melihat situasi global saat ini bagai diselubungi “kegelapan”. Tapi di balik itu, masih ada secercah harapan. Sebuah cahaya kecil yang terus menyala, menerangi jalan kemanusiaan.

Selain perdamaian, ada satu hal lain yang ia soroti: ekologi integral. Ini bukan sekadar persoalan teknis seperti energi atau sampah. Lebih dari itu, ini soal cara pandang menyeluruh yang menyentuh moralitas manusia. Kerusakan lingkungan, dalam pandangannya, bersumber dari sikap serakah yang mengabaikan solidaritas.

“Selama keserakahan masih dominan, apalagi didukung kekuatan yang merusak, maka kerusakan akan terus terjadi,” imbuhnya.

Kardinal Suharyo menekankan, pertaubatan ekologis harus dimulai dari dalam. Dari perubahan hati nurani, bukan sekadar aksi seremonial belaka. Ia pun mengajak masyarakat untuk hidup sederhana. Gaya hidup secukupnya, tanpa berlebihan, adalah bentuk pengendalian diri yang nyata.

Pada akhirnya, dua pesan ini perdamaian dan kelestarian bumi berjalan beriringan. Keduanya membutuhkan komitmen dan kesadaran yang lahir dari kedalaman hati.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar