Gunung Semeru kembali menunjukkan keganasannya. Pada Minggu pagi, gunung tertinggi di Jawa itu erupsi, memuntahkan awan panas yang meluncur sejauh 3,5 kilometer dari puncaknya. Suasana mencekam kembali menyelimuti perbatasan Lumajang dan Malang.
Menurut laporan tertulis dari Pos Pengamatan Gunung Semeru yang diterima di Lumajang, erupsi pertama tercatat pukul 02.02 WIB.
“Telah terjadi erupsi Gunung Semeru dengan tinggi kolom letusan kurang lebih 1.000 meter di atas puncak,” jelas Petugas Pos Pengamatan, Yadi Yuliandi.
Kolom abu yang tebal dan berwarna kelabu itu terlihat condong ke arah barat. Getarannya terekam jelas di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm, berlangsung sekitar tiga setengah menit. Yang mengkhawatirkan, letusan ini disertai luncuran awan panas.
Namun begitu, aktivitas gunung itu belum berhenti. Pukul 06.55 WIB, Semeru kembali mengeluarkan amarahnya. Kali ini kolom letusannya mencapai sekitar 800 meter di atas puncak, dengan abu putih hingga kelabu mengarah ke barat daya dan barat. Hanya berselang tujuh menit, tepatnya pukul 07.02 WIB, erupsi ketiga terjadi dengan ketinggian kolom abu vulkanik sekitar 600 meter.
Erupsi berlanjut. Catatan terakhir menyebutkan dua kali letusan lagi masing-masing pukul 07.53 WIB dan 08.50 WIB. Untuk yang terakhir, pengamatan visual terhambat kabut sehingga tinggi letusan tidak teramati.
Dengan status Level III atau Siaga, otoritas pun mengeluarkan sejumlah imbauan keras. Masyarakat dilarang keras beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 13 kilometer dari puncak.
“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai,” tegas Yadi.
Alasannya, kawasan itu masih berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar yang jangkauannya bisa mencapai 17 km. Bahaya lontaran batu pijar juga mengancam hingga radius 5 km dari kawah.
Di sisi lain, masyarakat diminta terus mewaspadai ancaman sekunder. Potensi awan panas, guguran lava, dan lahar mengintai di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, seperti Besuk Kobokan, Bang, Kembar, dan Sat. Sungai-sungai kecil anak dari Besuk Kobokan juga perlu diwaspadai karena bisa menjadi jalur lahar dingin. Kewaspadaan tetap harus dijaga, mengingat Semeru masih dalam fase yang sangat aktif dan tidak terduga.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia U-20 Gabung Grup H Kualifikasi Piala Asia 2027, Bersaing dengan Australia dan Malaysia
Sopir Taksi Online Rusak Spion Mobil di Tol JORR karena Kesal Tak Diberi Jalan
Empat Fenomena Astronomi Warnai Langit Indonesia Sepanjang Juni 2026, dari Hujan Meteor hingga Strawberry Moon
Separuh Penumpang Whoosh Catat Perjalanan Bandung-Jakarta di Puncak Arus Balik Libur Panjang