Ini sejalan dengan temuan sebelumnya: rumah di perkotaan biasanya punya keragaman mikroorganisme lingkungan yang lebih miskin dibanding rumah di pedesaan. Beberapa ahli menduga pola inilah yang berkontribusi pada tingginya angka asma dan alergi pada anak kota.
Yang menarik, perubahan paling dramatis justru terjadi di sebuah apartemen di lantai delapan. Tempat tinggal ini hanya dihuni satu orang dewasa dan satu anak yang diasuh paruh waktu, tanpa hewan peliharaan, dan menggunakan ventilasi mekanis sepenuhnya. Di sana, porsi bakteri hutan di udara yang dihirup bayi melonjak hampir 10 persen hanya dengan sekali penambahan tanah, dibandingkan dengan rumah kontrol.
Pirkka Kirjavainen, penulis senior makalah ini, terlihat optimis.
“Sangat menggembirakan melihat bahwa tanda-tanda paparan mikroba yang dikaitkan dengan penurunan risiko asma bisa ditingkatkan di rumah perkotaan lewat intervensi sederhana dan murah seperti ini,” katanya.
“Langkah kita berikutnya tentu melihat apakah intervensi ini benar-benar membawa manfaat kesehatan seperti yang kita harapkan,” tambah Kirjavainen.
Namun begitu, temuan ini bukan tanpa catatan. Skala studinya masih kecil dan hanya dilakukan di wilayah Finlandia timur. Artinya, diperlukan riset lebih luas di wilayah berbeda untuk memastikan hasilnya tetap valid. Meski menjanjikan, kita tentu perlu menunggu konfirmasi lebih lanjut.
Artikel Terkait
Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang Capai 163 Unit, Fasilitas Penunjang Segera Rampung
Aturan IGRS Kominfo Picu Kekhawatiran Blokir Game dan Hambat Industri
Truk Gandeng Tabrak Pikap di Demak, Satu Orang Tewas Tertabrak
Banjir di Demak Surut, Satu Anak Tewas dan Perbaikan Tanggul Digenjot