Pemberitaan juga cenderung menghindari pembahasan rasionalitas di balik serangan terbaru ini. Klaim pemerintah tentang "ancaman yang segera terjadi" diterima begitu saja, tanpa pengujian kritis. Salah satu ciri mencolok adalah sensor ketat soal lokasi jatuhnya misil di Israel dan besaran kerusakannya.
Selama perang Juni lalu, para menteri kabinet sampai menuduh media internasional "membantu musuh," yang memicu massa menghalangi wartawan asing. Kali ini, meski kasusnya lebih sedikit, pembatasan tetap ada. Majalah 972 mendokumentasikan insiden di mana relawan sipil memeriksa identitas jurnalis di dekat Tel Aviv. Komandan mereka terdengar berkata, "Pastikan tidak ada mata-mata di sini." Di kasus lain, media hanya boleh melaporkan serpihan misil jatuh di sebuah sekolah, tanpa menyebut lokasi sasaran sebenarnya. Intinya, sementara media secara sukarela menghindari pemberitaan dampak serangan Israel ke Iran, sensor pemerintah juga membatasi informasi tentang kerusakan akibat serangan Iran di Israel.
Adakah Suara Kritis yang Tersisa?
Di tengah dukungan publik yang sangat kuat survei menunjukkan 93% warga mendukung operasi militer di hari-hari pertama suara kritis nyaris tak terdengar. Di luar surat kabar Haaretz yang dikenal vokal dari kiri, hampir tidak ada penolakan di media arus utama.
Sebuah kemunculan yang jarang terjadi adalah ketika jurnalis investigasi ternama Ilana Dayan berbicara di Channel 12. Dia menyoroti kasus tewasnya pasangan lansia akibat roket.
"Mereka gagal melindungi kelompok paling rentan," tegas Dayan, "sementara di saat yang sama, mereka menyeret masyarakat ke dalam perang di dalam perang, lalu mempublikasikan video yang memamerkan kekuatan Israel dan klaim kemenangan beruntun."
Dia menegaskan bahwa pejabat yang menyetujui serangan tapi tak menyiapkan perlindungan warga sipil harus dimintai pertanggungjawaban.
Reaksinya cepat datang. Media sayap kanan dan Channel 14 langsung menyerangnya. Seorang pembawa acara menyebut Dayan "menjijikkan" dan menuduhnya "berpihak pada musuh." Channel 14 bahkan mempublikasikan tulisan berjudul "Kekudusan nyawa ala Ilana Dayan bakal menyebabkan kita semua tewas."
Banjir Hoaks dan Video Palsu
Perang kali ini juga dibarengi banjirnya video palsu. Banyak akun dari Iran membagikan konten yang mengklaim menunjukkan kehancuran di Tel Aviv, ada yang dibuat dengan AI, ada pula rekaman lama dari konflik lain. Media Israel sendiri ternyata tak luput.
Setelah Ali Khamenei tewas, Channel 14 menayangkan video yang katanya menunjukkan orang-orang Iran meneriakkan "Bibi Joon," panggilan sayang untuk Netanyahu. Para pembawa acaranya memuji video itu sebagai sesuatu yang "luar biasa" dan bersikeras itu asli. Belakangan terbukti, video itu dihasilkan AI.
Sementara itu, kanal resmi pemerintah Israel berbahasa Persia sibuk merilis video yang menonjolkan hubungan historis Yahudi-Iran, lengkap dengan bendera Iran era pra-revolusi, bendera AS, dan jet tempur F-35. Konten yang dibagikan ribuan kali ini menampilkan Israel sebagai "pembebas," terutama bagi perempuan Iran.
Beberapa hari setelah video AI itu, Channel 12 ikut menyiarkan rekaman yang diklaim sebagai serangan pesawat pengebom siluman B-2 AS terhadap Iran.
"Ini dirilis oleh pihak Amerika," kata Nir Dovri, koresponden militernya. "Kita tinggal menikmati menontonnya."
Ternyata, rekaman itu berasal dari gim simulasi perang. Channel 14 pun ikut menayangkannya. Konten semacam ini mudah menyebar karena sejalan dengan narasi yang sudah bertahun-tahun dibangun oleh pemerintah dan media arus utama. Dalam situasi di mana media lebih berperan sebagai penggerak opini ketimbang penyeimbang, misinformasi seperti ini hanya memperkuat anggapan bahwa Iran adalah ancaman eksistensial dan Israel sedang menuju "kemenangan besar."
Artikel Terkait
Kemenag Jatim Raih Penghargaan Finalisasi Terbanyak dalam SPAN-PTKIN Award 2026
Master Limbad Gigit Knalpot Brong Saat Razia di Cianjur
KSAD Berduka, Tiga Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian PBB di Lebanon
Penumpang Berhak Refund Jika Maskapai Batalkan atau Ubah Jadwal Penerbangan