Denpasar Terapkan WFH untuk ASN Setiap Jumat Mulai April 2026

- Jumat, 03 April 2026 | 15:15 WIB
Denpasar Terapkan WFH untuk ASN Setiap Jumat Mulai April 2026

Denpasar Mulai 10 April 2026 nanti, Jumat bakal terasa berbeda bagi para ASN di Kota Denpasar. Pemerintah setempat resmi memberlakukan sistem kerja dari rumah atau Work From Home setiap akhir pekan kerja itu. Kebijakan ini bukan inisiatif lokal semata, melainkan tindak lanjut dari surat edaran Kementerian Dalam Negeri yang mendorong transformasi budaya kerja aparatur di seluruh daerah.

Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, mengonfirmasi hal tersebut. Menurutnya, ini adalah bentuk respons cepat Pemkot terhadap arahan pusat.

“Kami sudah siapkan skemanya. Mulai 10 April, ASN di Denpasar bisa WFH tiap Jumat. Intinya, kita ingin budaya kerja jadi lebih fleksibel dan adaptif dengan zaman,” jelas Arya Wibawa.

Memang, skema yang akan dijalankan tidak sepenuhnya bebas. Hanya satu hari dalam seminggu, yaitu Jumat. Itu pun dengan catatan: unit-unit layanan yang langsung berhubungan dengan masyarakat mungkin akan punya pengecualian. Prinsipnya, pelayanan publik tidak boleh terganggu.

Di sisi lain, ada tujuan lain yang cukup menarik. Selain soal fleksibilitas, kebijakan ini diharap bisa menghemat banyak hal. Coba bayangkan: listrik, air, bahan bakar untuk kendaraan dinas, dan berbagai biaya operasional kantor lainnya. Potensi penghematannya cukup signifikan.

“Efisiensi juga jadi tujuan kami. Selama ini biaya operasional kantor tidak kecil. Dengan WFH, beban itu bisa ditekan, sementara efektivitas kerja justru kita jaga,” tambah Arya Wibawa.

Kalau kita lihat lebih luas, langkah Denpasar ini sejalan dengan gerakan nasional untuk modernisasi birokrasi. Pengalaman pahit selama pandemi dulu ternyata membawa pelajaran berharga: kerja jarak jauh ternyata bisa dilakukan, dan produktivitas tak selalu anjlok. Bahkan, beberapa sektor justru lebih efisien.

Nah, untuk kota seperti Denpasar yang lalu lintasnya semakin padat, kebijakan ini punya dampak sampingan yang positif. Mengurangi pergerakan kendaraan ASN setiap Jumat berarti sedikit meredakan kemacetan dan menekan emisi karbon. Efeknya mungkin tidak drastis, tapi setiap langkah kecil pasti membantu.

Namun begitu, Pemkot Denpasar tak mau gegabah. Mereka akan memasang mekanisme pengawasan dan evaluasi kinerja yang ketat. Jangan sampai fleksibilitas malah jadi bumerang yang menurunkan kualitas pelayanan. Ke depannya, jika semua berjalan mulus dan infrastruktur digital makin siap, skema ini berpotensi untuk diperluas.

Pada akhirnya, langkah Denpasar ini adalah contoh nyata bagaimana kebijakan pusat diimplementasikan di daerah. Sebuah upaya untuk menciptakan pemerintahan yang tidak kaku, lebih efisien, dan mampu merespon tuntutan zaman. Kita tunggu saja hasilnya setahun kemudian.


Editor: Redaksi

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar