Jadi, intinya jelas: ketersediaan pupuk nasional aman dan stabil. Harganya pun tetap terjaga. Ini tentu kabar baik untuk mendukung produktivitas para petani.
Kebijakan penurunan HET pupuk subsidi sebesar 20% sendiri sudah berlaku sejak Oktober 2025. Ini merupakan salah satu terobosan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Selama puluhan tahun, harga pupuk cenderung naik tiap tahun atau dua tahun sekali. Kini, justru berhasil diturunkan berkat efisiensi anggaran.
Penurunan itu berlaku untuk dua jenis utama. Pupuk urea turun dari Rp2.250 per kg menjadi Rp1.800 per kg. Artinya, per sak 50 kilogram yang dulu Rp112.500, sekarang cukup Rp90.000. Sementara pupuk NPK turun dari Rp2.300 per kg jadi Rp1.840 per kg. Per sak 50 kilogramnya turun dari Rp115.000 menjadi Rp92.000. Berlaku secara nasional.
Dampaknya? Diyakini langsung terasa. Mulai dari peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP), penurunan biaya produksi, hingga peningkatan kesejahteraan petani. Pemerintah optimis produksi pertanian nasional akan melonjak dalam beberapa tahun ke depan.
"Atas dampak dari penurunan HET 20 persen ini, kelihatan nyata sekali," ucap Rahmad.
"Penebusan pupuk pada tahun 2025 dan 2026 ini meningkat cukup signifikan. Di tahun 2026 ini meningkat 31 persen."
Meski memberikan angka persentase kenaikan yang menggembirakan itu, Rahmad tidak merinci berapa kuantitas pupuk subsidi yang sudah disalurkan ke petani periode Januari-Maret 2026. Itu tetap menjadi catatan. Namun, dengan semua penjelasan yang diberikan, pesannya satu: petani tak perlu khawatir. Pasokan aman, harga pun tak naik.
Artikel Terkait
Tabrakan Kereta dan Mobil di Perlintasan Bogor-Cilebut Ganggu Perjalanan KA 1157
Kamboja Terapkan WFH untuk ASN Atasi Dampak Lonjakan Harga BBM Global
PB ORADO Gelar Kejurnas Domino 2026, Libatkan Figur Publik untuk Naikkan Citra Olahraga Strategi
Prabowo dan Presiden Korsel Berpose Finger Heart dengan Idol K-pop Indonesia di Istana