Wilayah Sulawesi Utara diguncang gempa berkekuatan magnitudo 7,6. Guncangannya terasa kuat, dan tak lama setelahnya, peringatan tsunami pun dikeluarkan. Laporan dari lapangan mengonfirmasi, gelombang tsunami benar-benar menerjang beberapa titik di Sulut dan juga Maluku Utara.
Menurut sejumlah saksi, air laut tiba-tiba naik dan menggenangi daratan. Plt Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan situasi yang terjadi.
"Berdasarkan hasil pemantauan tinggi muka air laut Tide Gauge tsunami telah terdeteksi," ujarnya.
Dia mencatat setidaknya ada lima lokasi yang terdampak. Tiga di Maluku Utara, sisanya di Sulawesi Utara. Data dari Tide Gauge menunjukkan kapan dan seberapa tinggi gelombang itu datang.
Di Halmahera Barat, tsunami tercatat pukul 06.08 WIB dengan ketinggian sekitar 30 cm. Menyusul Bitung sepuluh menit kemudian, gelombangnya lebih rendah, 20 cm.
Namun begitu, titik lain justru mengalami kenaikan yang lebih signifikan. Sidangoli, misalnya, mencatat ketinggian 35 cm pada pukul 06.16 WIB.
Yang paling mengkhawatirkan datang dari Minahasa Utara. Di sana, sekitar pukul 06.18 WIB, air laut naik hingga 75 sentimeter. Gelombang terakhir yang terekam di Belang, pukul 06.36 WIB, masih cukup tinggi, yakni 68 cm.
Informasi ini terus berkembang. BMKG dan pihak berwenang setempat masih memantau dan mengumpulkan data lebih lanjut untuk memastikan dampak sebenarnya dari bencana ini.
Artikel Terkait
Prabowo Akhirnya Penuhi Undangan Kenegaraan ke Paris, Kunjungan Balasan ke Prancis setelah Dua Kali Diminta Macron
Pemprov DKI Tiadakan Car Free Day Akhir Pekan Ini karena Perayaan Waisak
Penyembelihan Hewan Kurban di Masjid Istiqlal Dimulai, Sapi Presiden Prabowo Berbobot 1,3 Ton
Pengemudi BYD Denza di Tangerang Ditilang Usai Modifikasi Pelat Nomor Mirip Kendaraan Pejabat