Laporan Ungkap Potensi Agribisnis sebagai Motor Ekonomi Indonesia Menuju 2045

- Kamis, 02 April 2026 | 00:15 WIB
Laporan Ungkap Potensi Agribisnis sebagai Motor Ekonomi Indonesia Menuju 2045

"ASEAN adalah pasar dinamis dengan 700 juta jiwa. Tugas kita adalah menjaga dan menumbuhkan pasar ini bersama-sama, melalui kerangka kerja yang ada."

Kerangka kerja yang dia maksud, antara lain, ATIGA yang sudah ditingkatkan dan perjanjian ekonomi digital (DEFA).

"Dengan ini, kita menyediakan kepastian hukum dan konektivitas yang dibutuhkan bisnis global untuk berkembang di kawasan," tegasnya.

Dari sisi riset, James Lambert dari Oxford Economics menyoroti besarnya kontribusi sektor ini. Skala agribisnis Indonesia, katanya, sangat substansial dan berfungsi sebagai pilar penopang ekonomi.

"Di tengah perdagangan global yang makin terfragmentasi, membangun ketahanan lewat fondasi domestik dan kepastian regulasi itu krusial," ungkap Lambert.

"Ketidakpastian kebijakan bisa jadi beban nyata bagi investasi dan produktivitas jangka panjang."

Dia juga menekankan pentingnya modernisasi infrastruktur logistik. Stabilitas kebijakan, menurutnya, kunci untuk menjaga daya saing Indonesia.

Sementara itu, Pham Quang Minh dari Sekretariat ASEAN menegaskan komitmen kawasan. ASEAN berfokus pada resiliensi dan keberlanjutan sektor pangan, salah satunya melalui Rencana Aksi Strategis untuk Pangan, Pertanian, dan Kehutanan (SPA-FAF).

"Kami ingin menciptakan sektor agribisnis yang inklusif dan tangguh. Rantai pasok harus stabil, dan itu kami upayakan lewat inisiatif seperti kerangka kerja Ketahanan Pangan Terintegrasi ASEAN (AIFS) serta rencana aksi lima tahunan kami," tuturnya.

Pembahasan berlangsung cukup intens. Nuansanya terasa, antara optimisme dan kesadaran akan pekerjaan rumah yang masih menumpuk. Tapi satu hal yang mengemuka: semua sepakat bahwa kekuatan pangan Indonesia adalah masa depannya.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar