Jadi, skema giliran pun diterapkan. Layanan air dibagi dua: untuk wilayah Kota Nunukan dan Kecamatan Nunukan Selatan. Masing-masing zona akan mendapat aliran air secara bergantian setiap dua hari sekali. Semacam sistem ‘jatah’ darurat, lah.
Di sisi lain, kondisi Embung Bilal masih cukup aman. Sumber air yang satu ini diperkirakan masih bisa menopang kebutuhan untuk sekitar sebulan ke depan. Sedikit kabar baik di tengah kekhawatiran.
Sayangnya, harapan akan hujan untuk mengisi kembali Embung Bolong tampaknya masih jauh. Prakiraan cuaca untuk sepekan mendatang di Nunukan menunjukkan langit tetap cerah, tanpa potensi hujan yang berarti.
Karena itu, imbauan pun disampaikan. Perumda Tirta Taka meminta masyarakat bisa lebih bijak dan hemat menggunakan air selama masa-masa sulit ini. Kerja sama dari semua pihak sangat dibutuhkan agar distribusi yang terbatas ini bisa dirasakan secara merata oleh seluruh warga.
Intinya, situasinya memang tidak ideal. Tapi dengan penyesuaian dan kesadaran bersama, krisis ini diharapkan bisa dilalui.
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Kembali dengan Komitmen Investasi Rp 575 Triliun dari Jepang dan Korea
Megawati Serahkan 126 Sertifikat HKI untuk Lindungi Karya Seni dan Budaya Bali
Ekonom Sarankan Alihkan Subsidi BBM untuk Percepatan Elektrifikasi Hadapi Risiko Geopolitik
Kerangka Manusia Ditemukan di Perkebunan Lereng Muria, Identitas Masih Misterius