"Ini kombinasi sangat berbahaya. Kemarau datang lebih cepat, lebih kering, dan lebih panjang," katanya.
"Data BMKG harus jadi alarm serius bagi kita semua. Jangan sampai kita kecolongan seperti tahun-tahun sebelumnya," imbuh politisi itu.
Rajiv juga menekankan, akar masalahnya tidak melulu pada cuaca. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar masih jadi penyumbang utama bencana asap ini. Setiap musim kemarau tiba, pola peningkatan titik panas di Sumatera dan Kalimantan selalu terulang.
Oleh karena itu, langkah antisipasi harus diperketat. Deteksi dini hotspot harus optimal, patroli terpadu di wilayah rawan ditingkatkan. Jangan lupa, kesiapan sarana pemadaman sejak dini dan pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan juga kunci.
"Kalau titik api bisa diketahui sejak awal, penanganannya jauh lebih mudah," pungkasnya.
Biaya pun, tentu saja, akan lebih hemat dibandingkan jika api sudah membesar dan meluas tak terkendali.
Artikel Terkait
Fuji Utami Tegaskan Tak Arahkan Gala Sky ke Dunia Hiburan
Pemerintah Wajibkan ASN WFH Setiap Jumat untuk Hemat Energi, Potensi Penghematan Capai Rp 6,2 Triliun
Dishub Bogor Tilang Taksi Konvensional Jakarta karena Ngetem dan Operasi di Luar Wilayah
PP TUNAS Diresmikan, Perlindungan Anak di Ruang Digital Diperkuat Jelang Hari Penyiaran