Wamenhub: Ketegangan Timur Tengah Tak Pengaruhi Penerbangan, Malah Ada Lonjakan Sewa Jet Pribadi

- Rabu, 01 April 2026 | 13:55 WIB
Wamenhub: Ketegangan Timur Tengah Tak Pengaruhi Penerbangan, Malah Ada Lonjakan Sewa Jet Pribadi

Rabu lalu di Gedung Bina Graha, suasana terasa cukup santai. Wakil Menteri Perhubungan, Suntana, tampak rileks menjawab pertanyaan para wartawan. Salah satu topik yang mengemuka adalah dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap sektor penerbangan kita. Dengan tenang, Suntana langsung menepis kekhawatiran.

“Nggak ada pengaruh, everything is okay lah gitu ya,” ujarnya.

Jawaban singkat itu ternyata justru membuka pembicaraan ke arah yang lebih menarik. Alih-alih terpengaruh konflik, industri penerbangan domestik justru menunjukkan geliat yang positif, terutama di momen Lebaran Idulfitri tahun ini. Menurut Suntana, data yang ada malah mencatat adanya kenaikan pesanan sewa jet pribadi.

“Ya karena jumlah penerbangan di data sekarang ini mengalami kenaikan termasuk private jet,” jelasnya. “Pemesanan private jet juga bertambah untuk tahun Lebaran ini."

Fenomena ini seolah menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar. Sebelumnya, Suntana telah memaparkan lonjakan signifikan dalam penggunaan angkutan umum. Tercatat ada 23,54 juta orang yang memilih bus, kapal, pesawat, atau kereta api untuk mudik.

“Jadi ada pergeseran, masyarakat kita memanfaatkan angkutan umum di semua sektor,” tambahnya.

Angkanya cukup detail: jalanan naik 11,6%, laut bertambah 9,86%, dan udara meningkat hampir 7%. Kereta api sendiri tumbuh solid di angka 10%. Namun, yang menarik perhatian adalah konfirmasi tentang tren jet pribadi ini. Rupanya, kebutuhan untuk silaturahmi dengan cara yang lebih eksklusif dan efisien juga ikut meroket.

“Kami laporkan, terjadi kenaikan memang kebutuhan pesawat dan pesanan private jet untuk kebutuhan silaturahmi juga cukup tinggi,” kata Suntana.

Di sisi lain, arus mudik dengan kendaraan pribadi juga tak kalah ramai. Pergerakan kendaraan yang meninggalkan Jabodetabek mencapai 2,9 juta unit, naik sekitar 4% dari tahun sebelumnya. Mayoritas tepatnya 51% tujuan utamanya adalah Jawa Tengah. Sisanya berbagi ke Jawa Timur (26,5%) dan wilayah barat serta selatan seperti Bogor dan Sukabumi.

“Karena memang kadang-kadang untuk wisata,” ucap Suntana, sambil menyelipkan catatan personal bahwa Sukabumi adalah kampung halamannya.

Jadi, gambaran mudik tahun ini cukup kompleks. Di satu sisi, transportasi umum makin digemari. Tapi di saat bersamaan, layanan penerbangan eksklusif justru menemukan pasarnya sendiri. Semuanya bergerak, semuanya ramai, mencerminkan dinamika masyarakat yang terus berubah.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini