"Karena perseroan pada saat ini memiliki modal dan arus kas yang cukup untuk melakukan dan membiayai seluruh kegiatan usaha, kegiatan pengembangan usaha, kegiatan operasional, serta pembelian kembali saham,"
tambah mereka dalam pengumuman tadi.
Mengintip laporan keuangan per akhir Desember 2025, posisi UNTR memang solid. Laba bersihnya mencapai Rp 15,2 triliun. Total asetnya Rp 177,6 triliun. Jika dana buyback Rp 2 triliun itu dipakai semua, aset diperkirakan sedikit menyusut jadi Rp 175,6 triliun. Ekuitas juga bakal turun dari Rp 103,1 triliun menjadi Rp 101,1 triliun.
Namun begitu, ada sisi menariknya. Justru laba bersih per saham (EPS) diproyeksikan naik, dari Rp 4.082 menjadi sekitar Rp 4.237. Perusahaan menilai perubahan angka-angka ini tidak signifikan bagi indikator keuangan mereka secara keseluruhan.
Setelah periode buyback usai, saham yang berhasil dibeli kembali akan disimpan sebagai saham treasuri. Nasib saham ini nanti? Bisa dialihkan lagi di masa depan jika diperlukan, misalnya saat perusahaan butuh tambahan modal, tentu dengan mengikuti aturan yang berlaku.
Pada akhirnya, harapan dari langkah ini jelas. Manajemen berharap ini jadi sinyal positif bagi investor tentang fundamental UNTR yang kuat. Di sisi lain, di tengah gejolak pasar yang kerap tak menentu, aksi ini diharapkan bisa jadi penyeimbang, membantu menjaga stabilitas harga saham di level yang wajar.
Artikel Terkait
Buronan Interpol Bos Mafia Skotlandia Ditangkap di Bandara Bali
YLBHI Desak Kasus Penyiksaan Andrie Yunus Ditangani Peradilan Umum, Bukan Militer
Oknum Serka ATP Diduga Jadi Calo Penerimaan Prajurit di Maluku Tengah
WFH Jumat Resmi Berlaku untuk ASN, Sektor Vital Tetap Wajib ke Kantor