Selama ini, keikutsertaan Indonesia dalam misi PBB sering dilihat publik sekadar sebagai simbol diplomasi. Namun begitu, tragedi di Lebanon membuka mata. Di balik simbol itu, ada risiko nyata yang mesti dipahami sebagai bagian dari lanskap konflik global yang terus berubah di mana batas antara zona perang, wilayah sipil, dan area perlindungan PBB kian kabur dan berbahaya.
“Ketika prajurit Indonesia gugur dalam misi perdamaian, itu menunjukkan bahwa komitmen Indonesia terhadap perdamaian internasional selalu dibayar dengan tanggung jawab yang tidak ringan,” imbuhnya.
Dari sini, Puan menilai penting sekali menjaga keseimbangan. Antara komitmen kita pada dunia, dan perlindungan maksimal bagi personel yang kita kirim. Keberanian di medan tugas harus diimbangi dengan kesiapan negara memetakan setiap perkembangan ancaman dengan lebih cermat dan adaptif.
Ia berharap insiden pilu ini bisa membuka mata semua pihak. Terutama bagi mereka yang masih berseteru.
“Perang harus segera dihentikan! Sudah berapa banyak korban berjatuhan demi kekuasaan pihak-pihak tertentu. PBB harus berani bertindak tegas,” serunya.
Di sisi lain, Puan mendorong pemerintah dan TNI untuk memberikan penghormatan tertinggi. Hak ketiga prajurit sebagai pahlawan kemanusiaan harus dipenuhi tanpa kompromi.
“Ketiga putra terbaik Indonesia tersebut gugur saat menjalankan tugas mulia sebagai penjaga perdamaian dunia. Sudah selayaknya Negara memberikan penghargaan sebaik-baiknya atas pengorbanan mereka,” tutupnya.
Sebuah pengorbanan yang meninggalkan duka, sekaligus pertanyaan besar tentang harga perdamaian di tengah dunia yang tak kunjung reda.
Artikel Terkait
Impack Pratama Lampaui Target, Laba Bersih Naik 15% di Tengah Tantangan Global
Pelatih Bulgaria Puji Kecepatan Herdman Bentuk Timnas Indonesia
Presiden Prabowo Perintahkan Penghematan Besar-besaran Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah
Anak Diduga Stres Aniaya Ibu Kandung Hingga Tewas di Banyuwangi