Hujan deras mengguyur, disertai angin kencang dan petir. Selama beberapa hari terakhir, setidaknya 45 nyawa melayang akibat amukan cuaca ekstrem yang melanda Afghanistan dan Pakistan. Di Afghanistan, hujan yang tak henti sejak Kamis lalu memicu banjir bandang dan tanah longsor di sejumlah wilayah.
Otoritas manajemen bencana Afghanistan (ANDMA) mengeluarkan data yang suram. "Dua puluh delapan orang gugur, dan 49 orang terluka," begitu bunyi pernyataan mereka, Senin (30/3/2026). Lebih dari seratus rumah rata dengan tanah.
Nasib serupa terjadi di seberang perbatasan. Di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, cuaca buruk telah merenggut 17 jiwa dan melukai 56 orang lainnya. Laporan ini berangkat dari Rabu pekan lalu.
Kisah-kisah di balik angka itu sungguh memilikan. Di Badghis, provinsi barat laut Afghanistan, seorang remaja 14 tahun meregang nyawa setelah tersambar petir. Juru bicara polisi setempat, Sediqullah Seddiqi, mengonfirmasi tragedi ini.
Masih di Badghis, Seddiqi menceritakan insiden lain yang tak kalah tragis. "Tiga orang tenggelam saat mencoba mengambil kayu apung untuk digunakan sebagai pemanas," ujarnya. Cuaca buruk tak pandang bulu, merobohkan sedikitnya 130 rumah dan merusak lebih dari 430 unit lainnya.
Korban jiwa terus berjatuhan. Di Daikundi, seorang bocah lima tahun tewas tertimpa atap rumahnya yang ambruk. Sementara di Nangarhar, provinsi timur yang berbatasan dengan Pakistan, seorang wanita mengalami nasib serupa.
"Kondisinya benar-benar parah," kata Sayed Tayeb Hamad, juru bicara polisi di Nangarhar, menggambarkan situasi di wilayahnya.
Artikel Terkait
Bruno Fernandes Dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Liga Inggris Musim 2025/2026
Kecelakaan di Tol Pasuruan-Probolinggo, Dua Staf Anggota DPR Meninggal Dunia
Persib Bandung Juara Super League 2025-2026 Usai Kalahkan Borneo FC Lewat Aturan Head to Head
Prabowo Tegaskan Komitmen Perkuat Kedaulatan Pangan dan Hentikan Kebocoran Kekayaan Negara