Gara-gara ketegangan di Timur Tengah yang bikin harga minyak dunia naik, pemerintah kita lagi sibuk menyusun aturan baru. Kali ini, mereka mau menggalakkan lagi kerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Tujuannya sederhana: menghemat pemakaian BBM. Rencananya, aturan ini bakal menyasar Aparatur Sipil Negara (ASN) dan juga para pekerja di sektor swasta.
Memang, ini bukan kali pertama WFH digaungkan. Kita masih ingat betul, beberapa tahun silam, pandemi Covid-19 memaksa hampir semua orang mengunci diri di rumah. Waktu itu, WFH adalah bagian dari social distancing untuk memutus rantai penularan. Efek sampingnya, konsumsi BBM pun turun drastis.
Namun begitu, situasi sekarang jelas beda. Tantangannya lain. Saat ini, tidak ada aturan social distancing yang membatasi orang keluar rumah. WFH berdiri sendiri, dengan satu target utama: menekan angka pemakaian BBM. Nah, di sinilah letak persoalannya. Bagaimana caranya merancang kebijakan agar tujuan itu benar-benar tercapai, tanpa justru menimbulkan masalah baru?
Kebijakan Presisi
Pemerintah dituntut berhitung cermat. Tidak bisa asal terapkan. Setidaknya, ada tiga aspek krusial yang harus jadi bahan pertimbangan: daerah mana saja, berapa hari dalam seminggu, dan hari apa yang dipilih.
Pertama, soal daerah. Jelas, penerapan WFH tidak bisa disamaratakan untuk seluruh Indonesia. Daerah dengan konsumsi BBM tertinggi harus jadi prioritas. Logikanya, wilayah padat penduduk seperti Jabodetabek pasti punya angka pemakaian yang besar. Begitu pula kota-kota besar macam Bandung, Surabaya, Medan, atau Makassar. Bahkan, kawasan industri seperti Karawang dan Cilegon juga patut dipertimbangkan. Efek penghematannya akan jauh lebih terasa di sana.
Kedua, jumlah hari. Semakin banyak hari WFH, potensi penghematan BBM tentu makin besar. Kabarnya, pemerintah baru merencanakan satu hari dalam seminggu. Tapi hati-hati, kita juga harus belajar dari masa pandemi. WFH yang terlalu ketat bisa mematikan denyut ekonomi. Dulu, efeknya parah karena dibarengi lockdown. Sekarang, keseimbangan antara menghemat BBM dan menjaga roda ekonomi harus benar-benar dijaga.
Aspek ketiga, pemilihan hari. Ini penting banget. Misalnya, kalau dipilih hari Jumat, bisa-bisa malah jadi ajang "long weekend". Orang justru akan menggunakan kendaraan untuk pergi berlibur, sehingga tujuan penghematan BBM bisa buyar. Beberapa analis justru menilai hari Rabu di tengah pekan jauh lebih efektif. Mobilitas yang berkurang di hari kerja biasa akan berdampak lebih signifikan.
Artikel Terkait
MBG di SDN Duren Sawit 02 Pagi Baru Dimulai Besok
Lalu Lintas Jakarta Timur Mulai Padat di Hari Pertama Usai Libur Lebaran
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp68 Ribu per Kg, Tekanan Pangan Masih Terasa
Lebaran 2026: Kunjungan Wisata Jatim Tembus 5,3 Juta, Naik 18 Persen