Jakarta tak pernah tidur. Deru mobil, gemerlap mall, dan hingar-bingar kehidupan modern mendominasi. Tapi di sudut kota yang mungkin luput dari perhatian, ada panggung lain yang tetap menyala. Di sanalah sekelompok seniman berjuang mati-matian menjaga nyawa Sandiwara Sunda, sebuah warisan yang perlahan tapi pasti terdesak zaman.
Bayangkan saja. Di kota yang tawaran hiburannya begitu beragam, mereka justru memilih untuk bertahan dengan bahasa ibu. Penonton? Memang tidak lagi seramai dulu. Namun, semangat itu tak pernah padam. Mereka main bukan untuk pencapaian materi, melungkin lebih karena sebuah kesetiaan yang dalam pada akar budaya.
Perjuangan itulah yang terekam apik dalam sebuah film dokumenter tentang Sanggar Miss Tjitjih. Film itu tak cuma menampilkan pertunjukan, tapi menyelami kehidupan para pemainnya. Ada cerita tentang susah payah mencari regenerasi. Anak muda sekarang punya banyak pilihan, dan dunia seni tradisi seringkali bukan prioritas. Lalu, ada juga tantangan klasik: ketidakpastian. Hidup dari panggung ke panggung memang tak pernah mudah.
Namun begitu, di balik semua kesulitan, ada sesuatu yang hangat terpancar. Solidaritas antar anggota sanggar terasa begitu kuat. Mereka seperti keluarga, saling menguatkan ketika satu pertunjukan hanya dihadiri segelintir orang. Harapan mereka sederhana: agar panggung tradisi ini tak benar-benar gelap. Agar tawa, tangis, dan cerita dalam bahasa Sunda masih bisa didengar di tengah gemuruh ibu kota.
Ini lebih dari sekadar pertunjukan. Ini adalah kisah tentang menjaga ingatan, tentang mempertahankan identitas di kota yang terus berubah dengan cepat. Sebuah bentuk perlawanan yang sunyi, namun penuh makna.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Mulai Kunjungan Resmi ke Jepang, Akan Temui Kaisar Naruhito
Arab Saudi Tembak Jatuh 10 Drone di Tengah Eskalasi Konflik Regional
Trader Ritel Indonesia Sering Terjebak Bereaksi Berita Geopolitik di Pasar Forex
Mantan Menhan Juwono Sudarsono Dimakamkan dengan Upacara Militer di Kalibata