Penilaian teknisnya sendiri ditangani oleh MyPOWER Corporation di bawah kementerian PETRA. Lembaga ini ditunjuk sebagai Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO), yang akan mengoordinasikan persiapan berdasarkan rekomendasi bertahap dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Rupanya, Malaysia tidak sendirian. Beberapa negara tetangga di ASEAN juga mulai melirik kembali energi nuklir. Filipina, misalnya, punya target ambisius kapasitas nuklir 4.800 megawatt pada 2050. Vietnam sudah memasukkan kembali tenaga nuklir ke dalam peta jalan energi nasionalnya.
Sementara itu, Indonesia juga tak mau ketinggalan. Mereka sedang menjajaki teknologi reaktor modular kecil (SMR), bahkan yang terapung, dengan target operasional sekitar tahun 2030.
Fadillah menekankan, prioritas utama Malaysia adalah kehati-hatian. Setiap langkah pengembangan nuklir di masa depan harus melalui analisis teknis yang sangat mendalam. Semuanya harus selaras dengan prioritas nasional dan tentu saja, kewajiban internasional yang sudah disepakati.
Artikel Terkait
22 Migran Tewas dalam Penyelamatan Kapal di Perairan Kreta
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria di Final FIFA Series 2026 di GBK