Cerita serupa datang dari Emily Ruado. Perempuan 59 tahun yang berjualan tisu ini mengeluh. Penghasilannya anjlok dari $10 jadi cuma $5 sehari sejak BBM naik. "Kami cuma sekadar bertahan hidup," katanya pada Al Jazeera. Kata-kata itu mewakili banyak orang.
Ancaman Stagnasi: Bukan Cuma Urusan Pribadi
Masalahnya ternyata lebih dalam. Krisis ini mengancam perekonomian nasional secara keseluruhan. Sebelum konflik Iran memanas, proyeksi pertumbuhan PDB Filipina masih di angka 5 persen. Sekarang? Target itu terasa semakin jauh. Biaya logistik dan harga sembako yang ikut meroket bikin semua perhitungan berantakan.
Ada ironi pahit di sini. Transportasi umum seperti jeepney dan bus banyak yang mangkrak karena tak sanggup bayar BBM. Alhasil, stasiun kereta yang jumlahnya terbatas itu jadi penuh sesak. Penumpukan penumpang di jam sibuk jadi pemandangan sehari-hari.
Fenomena ini seperti membuka borok lama. Ia menyingkap ketidaksiapan infrastruktur transportasi massal negara. Sekaligus mengingatkan publik pada skandal korupsi proyek infrastruktur miliaran dolar yang belum juga tuntas.
Kini, di tengah suasana Pekan Suci, Manila seperti kota yang terjebak. Jalanan sepi, tapi justru di situlah ancaman ekonomi yang melambat mengintai. Sebuah paradoks yang menyakitkan.
Penulis: Fityan | Editor: Redaksi TVRINews
Artikel Terkait
Mantan Menhan Juwono Sudarsono Wafat di Jakarta
22 Migran Tewas dalam Penyelamatan Kapal di Perairan Kreta
Studi UI: Krisis Selat Hormuz 2026 Berdampak Asimetris pada BUMN, Ada yang Tertekan Ada yang Diuntungkan
Anggota DPRD Palembang Dukung Pembatasan Akun Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun