Cerita serupa datang dari Sumatra Barat. Di SMAN 1 Batang Anai, kegiatan belajar juga terus berdenyut meski situasi pascabencana belum sepenuhnya pulih.
Zulbaidah, sang Kepala Sekolah, menjelaskan bahwa saat ini ada 10 rombongan belajar yang menempati Asrama Haji Kabupaten Padang Pariaman. Sebagian lainnya masih belajar di tenda darurat bantuan Kemendikdasmen.
“Kami terpaksa menyesuaikan,” ungkap Zulbaidah. Durasi belajar dipangkas, fokus dialihkan ke materi-materi esensial saja. Pedomannya adalah buku panduan dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen.
Kesiapan ini tentu bukan muncul tiba-tiba. Dukungan beruntun dari pemerintah pusat dan daerah sangat krusial. Bantuan beragam, dari dana normalisasi, bantuan untuk siswa, layanan trauma healing, hingga penyediaan tenda darurat. Pemerintah daerah juga turun tangan dengan mengerahkan alat berat dari BNPB untuk normalisasi dan memfasilitasi lokasi belajar sementara.
Gogot Suharwoto, Dirjen PAUD Dikdasmen, menegaskan komitmen pemerintah. Baginya, hak belajar anak adalah hal yang tak bisa ditawar, dalam kondisi apapun.
Pada akhirnya, upaya kolektif inilah yang menjadi penopang. Kolaborasi antara berbagai pihak memastikan layanan pendidikan tetap hidup di tengah kesulitan, menjaga agar api semangat belajar para siswa tak pernah padam.
Artikel Terkait
Polres Tapin Panen Perdana Jagung dari Lahan Tidur Milik Polri
LCP 2026 Split 2 Dimulai 4 April, Dua Tiket ke MSI Diperebutkan
Kebakaran di Cianjur Hanguskan 12 Rumah, 31 Jiwa Mengungsi
Mantan Menhan Juwono Sudarsono Wafat di Jakarta