Lestari Moerdijat, atau yang akrab disapa Rerie, punya keprihatinan mendalam soal literasi di Indonesia. Wakil Ketua MPR RI ini menilai, upaya meningkatkan kemampuan baca-tulis masyarakat bukan lagi sekadar program biasa. Ini adalah sebuah keharusan untuk menjawab tantangan bangsa yang kian kompleks.
Menurutnya, beban yang dihadapi sekarang jauh lebih berat.
ungkap Rerie dalam sebuah keterangan, Rabu lalu. Pernyataannya itu bukannya tanpa dasar. Ia merujuk pada hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang dirilis Kemendikdasmen akhir tahun lalu. Angkanya cukup mencengangkan.
Pemahaman tekstual seperti mengerti kosakata atau alur cerita hanya dikuasai oleh 49,21% peserta. Kemampuan inferensial, yaitu menjelaskan hubungan makna antar kalimat, bahkan lebih rendah: 43,21%. Sementara itu, soal kemampuan mengevaluasi dan mengapresiasi teks, angkanya cuma 45,32%.
Dari data itu, Rerie menarik satu kesimpulan yang terasa menohok: lebih dari separuh peserta didik kita ternyata belum punya fondasi literasi yang kuat.
tegasnya. Ia lalu menyebut sejumlah kendala klasik yang masih menghantui: kesenjangan ekstrem antardaerah, budaya lisan yang lebih dominan ketimbang tulisan, harga buku yang mahal, hingga kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga. Semua ini, dalam pandangannya, harus segera diatasi.
Artikel Terkait
Pria Diserang OTK di Parkiran Gereja Yahukimo, Kondisi Korban Sadar
Jasa Marga Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 250 Ribu Kendaraan pada 29 Maret
Eddy Soeparno Dukung WFH Satu Hari Seminggu untuk Antisipasi Dampak Konflik Global
Menteri Sosial Temukan 2.708 PNS Bolos Tanpa Keterangan Usai Lebaran