Wacana siswa belajar dari rumah lagi? Ternyata tidak jadi. Pemerintah memutuskan untuk membatalkan rencana itu, dan Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyambutnya dengan positif. Bagi Hetifah, langkah ini patut diapresiasi.
"Terkait wacana belajar dari rumah itu, pemerintah sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan. Menurut saya, ini langkah yang tepat," ujarnya kepada wartawan, Rabu (25/3/2026).
Ia melanjutkan, pengalaman pahit selama pandemi dulu memberikan pelajaran berharga. Menurutnya, interaksi langsung di ruang kelas tetap menjadi metode terbaik untuk belajar.
"Kita belajar banyak dari masa pandemi, bahwa pembelajaran tatap muka tetap yang paling optimal," tegas politisi Golkar tersebut.
Hetifah punya alasan kuat mendukung hal ini. Baginya, sekolah bukan cuma soal mengejar nilai akademik semata. Ada hal lain yang jauh lebih penting, yaitu proses tumbuh kembang anak sebagai makhluk sosial.
"Bukan hanya untuk capaian akademik, tapi juga untuk pembentukan karakter dan interaksi sosial anak-anak kita," jelas Hetifah.
Di sisi lain, ia menyadari realitanya tidak semua murid punya kondisi rumah yang mendukung. Ketimpangan akses dan fasilitas, minimnya pendampingan orang tua, hingga lingkungan yang tidak kondusif bisa menjadi penghalang besar. Belajar dari rumah malah berpotensi memperlebar jurang ketidakadilan itu.
"Tidak semua siswa juga punya kondisi yang sama kalau harus belajar dari rumah, baik dari sisi akses, pendampingan orang tua, maupun lingkungan belajar," ucapnya.
Lalu, bagaimana dengan isu penghematan energi yang sempat jadi pembicaraan? Hetifah menilai alasan itu belum cukup kuat untuk mengorbankan sistem pembelajaran. Apalagi, dengan diterapkannya sistem zonasi, jarak tempuh kebanyakan siswa ke sekolah sebenarnya tidaklah jauh.
"Kalau dikaitkan dengan isu energi, saya melihat urgensinya memang belum cukup kuat. Apalagi dengan sistem zonasi sekarang, sebagian besar siswa bersekolah relatif dekat dari rumah," paparnya.
Ia menekankan, setiap kebijakan besar di bidang pendidikan harus dipikirkan matang-matang. Kajian yang mendalam berbasis data mutlak diperlukan agar tidak menimbulkan efek samping yang merugikan, terutama bagi mereka yang sudah rentan.
"Kami berharap, setiap kebijakan pendidikan yang signifikan dampaknya harus benar-benar dikaji secara matang, berbasis data, dan mempertimbangkan konsekuensinya secara menyeluruh, terutama agar tidak memperlebar kesenjangan," tambahnya.
Ke depannya, Hetifah berharap pemerintah fokus membangun sistem pendidikan yang luwes. Sistem yang mampu beradaptasi dengan berbagai kemungkinan situasi tanpa terburu-buru mengambil langkah drastis.
"Yang lebih penting adalah menyiapkan sistem pendidikan kita agar lebih adaptif dan siap menghadapi berbagai situasi, tanpa harus tergesa-gesa," pungkasnya.
Keputusan final untuk membatalkan wacana belajar dari rumah ini sendiri sebelumnya telah ditegaskan oleh Menko PMK, Pratikno. Para siswa akan tetap belajar seperti biasa di sekolah mereka.
Pratikno menyebutkan, keputusan ini merupakan hasil koordinasi dengan Mendikdasmen dan Menag. Alasannya jelas: mereka tak ingin terjadi 'learning loss' atau hilangnya kemampuan belajar anak-anak, di tengah situasi krisis global yang sedang berlangsung. Sektor pendidikan, bagaimanapun, harus tetap berjalan optimal.
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Tiga Pelaku Pengeroyokan di Pasar Lama Tangerang, Satu Buron
Liverpool dan Chelsea Berbagi Angka 1-1 di Anfield, The Reds Pastikan Tiket Liga Champions
36 UMKM Terpilih Ikuti Kompetisi Bisnis Juragan Jaman Now Musim Kelima
PKS Salurkan Bantuan Pendidikan dan Apresiasi 24 Guru Inspiratif di Hardiknas 2026