Gemuruh takbir mengiringi hari raya Idul Fitri, membawa harapan akan kedamaian yang meluas. Tapi di luar sana, dunia tak ikut berhenti berkonflik. Justru, ketegangan antara Amerika, Israel, dan Iran masih terus memanas, bagai bara yang tak kunjung padam. Kontras yang menyedihkan, bukan?
Ini memunculkan pertanyaan yang tak mudah: bisakah perdamaian benar-benar bertahan, jika kita tak siap menjaganya? Di sinilah ungkapan lama, “Si vis pacem, para bellum”, terasa masih relevan. Kalau mau damai, bersiaplah untuk perang.
Jangan salah paham dulu. Ungkapan yang dipopulerkan Vegetius ini sama sekali bukan ajakan untuk memulai peperangan. Maknanya justru lebih filosofis: perdamaian yang hakiki hanya bisa dipertahankan lewat kesiapan yang matang. Itu intinya.
Nah, “kesiapan menghadapi perang” ini maknanya luas. Bukan cuma soal siap tempur atau jumlah pasukan. Ini lebih pada kesadaran bahwa konflik adalah bagian yang inheren dari hubungan antar bangsa. Seperti kata Clausewitz, perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Ia melekat dalam dinamika kekuasaan global. Tanpa kesiapan militer yang mumpuni, tentu saja, perdamaian jadi ilusi. Tapi perang sendiri tak bisa direduksi jadi sekadar urusan militer belaka.
Di sisi lain, cara kita memandang ancaman juga sudah berkembang. Barry Buzan, misalnya, memperluas cakupan keamanan hingga mencakup aspek ekonomi, sosial, bahkan identitas. Perang kini adalah fenomena multidimensi, melibatkan politik, moral, dan budaya. Maka, “menghadapi perang” berarti membangun ketangguhan menyeluruh terhadap segala bentuk ancaman, dari yang konvensional sampai yang hybrid.
Pemikiran Prof. Amarulla Octavian dalam bukunya tentang Filsafat Ilmu Pertahanan menegaskan hal serupa.
Pertahanan negara adalah upaya kolektif, melibatkan negara dan rakyat sebagai satu kesatuan. Menghadapi perang, dalam arti yang mendalam, adalah sikap untuk menjaga keberlangsungan hidup bangsa bukan untuk cari masalah.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Perintahkan Percepatan Proyek Sampah Jadi Energi Listrik
Fortuner Ngebut di Bahu Tol Andara, Dua Orang Terluka
Pria Diserang OTK di Parkiran Gereja Yahukimo, Kondisi Korban Sadar
Jasa Marga Prediksi Puncak Arus Balik Lebaran 250 Ribu Kendaraan pada 29 Maret