Si Vis Pacem, Para Bellum: Refleksi Idul Fitri dan Kesiapan Pertahanan di Tengah Ketegangan Global

- Rabu, 25 Maret 2026 | 17:25 WIB
Si Vis Pacem, Para Bellum: Refleksi Idul Fitri dan Kesiapan Pertahanan di Tengah Ketegangan Global

Gemuruh takbir mengiringi hari raya Idul Fitri, membawa harapan akan kedamaian yang meluas. Tapi di luar sana, dunia tak ikut berhenti berkonflik. Justru, ketegangan antara Amerika, Israel, dan Iran masih terus memanas, bagai bara yang tak kunjung padam. Kontras yang menyedihkan, bukan?

Ini memunculkan pertanyaan yang tak mudah: bisakah perdamaian benar-benar bertahan, jika kita tak siap menjaganya? Di sinilah ungkapan lama, “Si vis pacem, para bellum”, terasa masih relevan. Kalau mau damai, bersiaplah untuk perang.

Jangan salah paham dulu. Ungkapan yang dipopulerkan Vegetius ini sama sekali bukan ajakan untuk memulai peperangan. Maknanya justru lebih filosofis: perdamaian yang hakiki hanya bisa dipertahankan lewat kesiapan yang matang. Itu intinya.

Nah, “kesiapan menghadapi perang” ini maknanya luas. Bukan cuma soal siap tempur atau jumlah pasukan. Ini lebih pada kesadaran bahwa konflik adalah bagian yang inheren dari hubungan antar bangsa. Seperti kata Clausewitz, perang adalah kelanjutan politik dengan cara lain. Ia melekat dalam dinamika kekuasaan global. Tanpa kesiapan militer yang mumpuni, tentu saja, perdamaian jadi ilusi. Tapi perang sendiri tak bisa direduksi jadi sekadar urusan militer belaka.

Di sisi lain, cara kita memandang ancaman juga sudah berkembang. Barry Buzan, misalnya, memperluas cakupan keamanan hingga mencakup aspek ekonomi, sosial, bahkan identitas. Perang kini adalah fenomena multidimensi, melibatkan politik, moral, dan budaya. Maka, “menghadapi perang” berarti membangun ketangguhan menyeluruh terhadap segala bentuk ancaman, dari yang konvensional sampai yang hybrid.

Pemikiran Prof. Amarulla Octavian dalam bukunya tentang Filsafat Ilmu Pertahanan menegaskan hal serupa.

Pertahanan negara adalah upaya kolektif, melibatkan negara dan rakyat sebagai satu kesatuan. Menghadapi perang, dalam arti yang mendalam, adalah sikap untuk menjaga keberlangsungan hidup bangsa bukan untuk cari masalah.

Bagi Indonesia, prinsip ini punya akarnya sendiri: “cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Damai adalah tujuan utama, tapi kita juga harus siap siaga menjaganya. Perang adalah opsi terakhir, hanya untuk mempertahankan kedaulatan dan nilai-nilai Pancasila.

Jadi, sikap ini pada dasarnya adalah soal menjaga martabat. Filosofi pertahanan kita adalah sintesis unik antara rasionalitas Barat dan kearifan Timur. Kekuatan dan daya tangkal dibangun bukan untuk mendominasi, tapi untuk menciptakan keseimbangan. Untuk mencegah konflik, sekaligus punya landasan etis yang kuat.

Pendekatan ini makin relevan dengan kerangka ASTACITA 2 yang menekankan kemandirian strategis. Di tengah ketidakpastian global, kemandirian bukan lagi sekadar wacana. Itu kebutuhan. Kesiapan menghadapi ancaman adalah bagian dari upaya menjaga kedaulatan, agar Indonesia tetap tegak di panggung geopolitik.

Pada akhirnya, Idul Fitri bukan cuma perayaan. Ia juga momentum untuk merenung. Damai yang sejati bukan berarti tidak ada konflik sama sekali. Damai adalah hasil dari kesadaran, kewaspadaan, dan kebijaksanaan yang terus dirawat. Dunia mungkin tak akan pernah benar-benar tenang, tapi peradaban yang matang adalah yang bisa merawat perdamaian tanpa lengah.

Dalam terang si vis pacem, para bellum, jadi jelas. Perdamaian sejati lahir dari kesiapan yang utuh secara moral, intelektual, dan institusional. Bukan untuk menebar permusuhan, tapi untuk memastikan kita tak kehilangan martabat saat ancaman datang.

Idul Fitri mengajarkan kemenangan atas diri sendiri. Dalam skala bangsa, kemenangan itu terletak pada kemampuan menjaga perdamaian. Dengan kekuatan yang terkendali, kebijaksanaan yang mendalam, dan kesadaran bahwa damai bukanlah kebetulan. Ia adalah hasil dari kesiapan yang dibangun dengan susah payah.

Khulfi M. Khalwani. Mahasiswa Program Doktor Konsentrasi Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan RI.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar