Momen Ramadan dan Lebaran tahun ini diprediksi bakal memberi angin segar bagi perekonomian nasional. Menurut M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 berpeluang melesat ke level 5,1 hingga 5,2 persen. Angka itu dihitung secara tahunan atau year-on-year.
“Secara agregat, momentum Lebaran diperkirakan menambah sekitar 0,2-0,5 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I,” ujar Rizal, Rabu (25/3/2026).
Dia bilang, posisi Lebaran yang jatuh di awal tahun ini menciptakan efek front-loading. Artinya, akselerasi pertumbuhan bakal terkonsentrasi di kuartal pertama. Hal ini didorong oleh peningkatan belanja masyarakat yang dapat duit THR, bansos, plus berbagai stimulus mobilitas. Konsumsi rumah tangga kontributor terbesar PDB langsung terdongkrak.
“Lonjakan konsumsi ini juga menghasilkan efek pengganda yang cukup luas, terutama pada sektor ritel, transportasi, akomodasi, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendorong redistribusi aktivitas ekonomi ke daerah selama periode mudik,” tambahnya.
Efeknya Cuma Sementara?
Namun begitu, Rizal menyoroti satu hal penting. Dorongan pertumbuhan di kuartal I ini sifatnya cenderung jangka pendek. Kenapa? Karena dorongan itu tidak dibarengi dengan peningkatan kapasitas produksi. Jadi, yang terjadi lebih ke pemanfaatan ekonomi yang lebih tinggi, bukan perbaikan fundamental yang mendasar.
“Meski pertumbuhan kuartal I berpotensi terlihat kuat, terdapat risiko normalisasi pada periode berikutnya,” jelas Rizal.
Konsumsi saat Lebaran, kata dia, sifatnya temporal dan musiman. Pasca-hari raya, khususnya bagi kelompok menengah ke bawah, potensi perlambatan sangat mungkin terjadi.
Artikel Terkait
Bupati Lampung Selatan Gelar Halalbihalal Terbuka untuk Ribuan Warga
Pria Tuli Selamat Meski Terseret Kereta 30 Meter di Surabaya
Presiden Prabowo Perintahkan Percepatan Proyek Sampah Jadi Energi Listrik
Fortuner Ngebut di Bahu Tol Andara, Dua Orang Terluka