Masalahnya, klaim Trump itu justru menimbulkan lebih banyak tanda tanya. Siapa yang terlibat? Seberapa serius pembicaraannya? Peluang keberhasilannya seperti apa? Semuanya masih gelap. Bahkan, Iran sendiri dengan tegas membantah sedang bernegosiasi dengan AS.
Di tengah kebuntuan ini, Pakistan sekutu pertahanan AS muncul dengan tawaran menjadi mediator. Tapi, di lapangan, situasinya tetap mencekam. Iran masih bercokol mengontrol Selat Hormuz yang vital. Sebaliknya, Israel terus menggempur posisi-posisi Iran. Belum lagi laporan soal tambahan pasukan AS yang dikirim ke kawasan, yang semakin mempertebal suasana perang.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari lalu ini dampaknya sudah terasa global. Serangan balasan Iran yang menyasar fasilitas energi di Teluk, dan penutupan Selat Hormuz, langsung menggoyang pasar. Harga energi melonjak, pasar keuangan bergejolak. Jalur penting untuk pengiriman minyak dan gas terutama ke Asia nyaris terputus. Cuma segelintir kapal, yang punya kaitan dengan Iran, China, atau Suriah, yang berani melintas.
Jadi, seruan China kali ini terdengar mendesak. Tapi, dengan kedua pihak yang masih saling serang dan saling tuduh, jalan menuju meja perundingan tampaknya masih sangat panjang dan berliku.
Artikel Terkait
Polda Banten Tegaskan Rekayasa Lalu Lintas untuk Keselamatan Usai Wisatawan Paksa Masuk Jalur Tertutup di Cinangka
Sopir Taksi Gelap Positif Sabu Tabrak Dua Tukang Sayur Tewas di Sidoarjo
Dua Pria Hilang Usai Mencebur ke Sungai Martapura Usai Bertengkar
Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Korban Tewas Kecelakaan Turun 30 Persen