Iran pun tak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan target militer AS di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi ketegangan inilah yang kemudian memicu blokade de facto di Selat Hormuz. Padahal, selat ini adalah jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Gangguan ini, tentu saja, langsung berimbas pada ekspor dan produksi minyak di kawasan.
Sebelumnya, pada hari Minggu, perwakilan tetap Iran untuk Organisasi Maritim Internasional (IMO) Ali Mousavi sudah memberikan sinyal serupa. Ia menegaskan bahwa semua kapal kecuali kapal “musuh” bisa melintas asalkan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Iran.
Jadi, pesannya jelas: lintasan tetap terbuka, tetapi dengan syarat tertentu. Situasi di perairan sempit itu kini bergantung pada koordinasi dan identitas bendera kapal yang melintas.
Artikel Terkait
Kementerian Kebudayaan Terapkan WFH dan Efisiensi Energi Respons Krisis Global
Pengguna QRIS di Kaltim Tembus 859 Ribu, Transaksi Digital dan Uang Tunai Tumbuh Beriringan
Ambulans di RSUD Kudus Tak Dikenai Tarif Parkir Rp80 Ribu, Hanya Salah Paham
Sirkulasi Uang Tunai Tembus Rp1.370 Triliun Saat Mudik Lebaran 2026