Peringatan keras datang dari Beijing. China menyebut serangan lanjutan di Timur Tengah berpotensi membawa situasi ke titik yang benar-benar tak terkendali. Wilayah itu sudah cukup panas, dan eskalasi lebih jauh dinilai sangat berbahaya.
Peringatan ini muncul tak lama setelah ancaman Presiden AS Donald Trump kepada Iran. Trump memberi Teheran batas waktu 48 jam, mulai Sabtu (21/3), untuk menghentikan blokade parsial di Selat Hormuz. Jika tidak, AS mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik mereka.
Nah, Selat Hormuz ini bukan jalur sembarangan. Jalur air sempit itu adalah urat nadi minyak dunia, dilalui sekitar seperlima pasokan global. Gangguan di sana langsung berimbas ke keamanan energi internasional.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, penggunaan kekuatan militer justru akan menciptakan lingkaran setan. Ia menyampaikan hal itu dalam sebuah konferensi pers, menanggapi langsung ancaman dari Washington.
"Jika perang meluas lebih jauh dan situasi memburuk lagi, seluruh wilayah dapat terjerumus ke dalam situasi yang tak terkendali,"
Begitu penegasan Lin Jian. Kekhawatirannya jelas: konflik yang merembet bisa memicu efek domino. China sendiri punya kepentingan vital, mengingat mereka adalah salah satu importir minyak terbesar yang lalu lintas energinya sangat bergantung pada stabilitas kawasan itu.
Jadi, situasinya makin tegang. Di satu sisi, ancaman AS yang blak-blakan. Di sisi lain, peringatan dari China agar semua pihak berpikir panjang. Timur Tengah seperti bubuk mesiu, dan percikan api baru bisa membakar segalanya.
Artikel Terkait
Dua Truk Trailer Diamankan Polisi Usai Melawan Arah di Cakung Cilincing Demi Pangkas Waktu
Kasus Pemukulan Waketum PSI Ronald Sinaga di Menteng Berakhir Damai, Dinilai Murni Miskomunikasi
Hakim Beri Waktu Eks Wamenaker Noel Bertemu Anak di Sidang, Momen Haru Warnai Persidangan Korupsi
Dua Truk Trailer Melawan Arah di Cakung Cilincing Diamankan Polisi, Sopir Beralasan Cari Jalan Pintas