Ultimatum ini bukan tanpa sebab. Sejak akhir Februari, ketika AS dan Israel memulai perang melawan Iran, Teheran membalas dengan menutup selat itu secara efektif. Langkah itu jelas sebuah pukulan telak. Bayangkan saja, hampir 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair global bergantung pada jalur sempit itu.
Akibatnya, kekacauan pun tak terhindarkan. Banyak negara yang bergantung pada selat itu kini kalang kabut. Mereka berburu rute alternatif dan mengandalkan cadangan yang ada, sambil menunggu perkembangan berikutnya. Situasinya sangat mencemaskan.
Kini, hitungan mundur 48 jam itu menjadi penentu. Apa yang akan dilakukan Iran? Apakah mereka akan mengalah, atau justru siap menghadapi konsekuensinya? Dunia menunggu, dengan napas tertahan.
Artikel Terkait
Soekarno-Hatta Masuk 10 Besar Bandara dengan Layanan Imigrasi Terbaik Dunia
Menteri HAM: Gaya Kepemimpinan Prabowo Egaliter dan Berpihak pada Rakyat
Toyota Luncurkan Alphard XE, Varian Hybrid Termurah di IIMS 2026
Sistem Satu Arah Diberlakukan Lagi di Jalur Puncak Menuju Jakarta