Misalnya dengan membuka usaha mandiri, memberdayakan UMKM, atau bahkan menciptakan lapangan kerja. Hal tersebut akan sangat membantu perekonomian sekaligus mendukung program Pemerintah Jakarta.
Namun begitu, di balik peluang, selalu ada risiko. Kent dengan tegas menyoroti persoalan sosial yang bisa timbul jika urbanisasi ini dibiarkan tak terkendali. Ia khawatir, tanpa kesiapan, para pendatang justru terperosok ke dalam kondisi yang memprihatinkan.
"Saya tidak ingin melihat pendatang yang akhirnya menjadi Pak Ogah, manusia gerobak, atau bahkan terjerumus ke dalam tindakan kriminal," tegas Kent yang juga menjabat Kepala BAGUNA DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta.
Hal ini, lanjutnya, harus menjadi perhatian bersama. Dampaknya bukan cuma pada individu, tapi juga pada ketertiban umum dan citra Jakarta sendiri sebagai kota metropolitan.
Maka, pesannya jelas: Jakarta tetap terbuka bagi siapapun. Syaratnya, harus ada kesiapan, tanggung jawab, dan tujuan yang jelas. Pemerintah Provinsi DKI bersama DPRD pun disebut akan terus mendorong kebijakan penataan urbanisasi yang lebih terarah. Caranya bisa lewat penguatan ekonomi daerah, peningkatan keterampilan, hingga pengawasan sosial di tingkat lokal.
"Kami percaya, dengan niat baik dan kerja keras, para pendatang bisa menjadi bagian dari solusi, bukan beban," tutup Kenneth.
Jakarta, pada akhirnya, bukan sekadar tempat mencari uang. Tapi juga ruang untuk tumbuh dan memberi arti.
Artikel Terkait
Prabowo Sambut Kunjungan Keluarga SBY di Istana Merdeka
Ayu Ting Ting Pilih Silaturahmi Keliling Kampung Saat Lebaran
Polisi Tangkap Puluhan Anggota Geng Motor yang Ricuh di Cileungsi Saat Malam Takbiran
SBY dan Keluarga Bersilaturahmi dengan Prabowo di Istana Usai Lebaran