Memang, pulau kecil di Teluk Persia ini bukan sembarang tempat. Sekitar 90% ekspor minyak Iran bermuara di sini. Serangan udara AS dan Israel sebelumnya sudah menyasar instalasi militer di sana. Tapi invasi darat? Itu cerita lain yang jauh lebih berisiko. Langkah itu akan menempatkan pasukan AS dalam posisi yang sangat rentan, berada dalam jangkauan serangan langsung Iran.
Di sisi lain, militer AS dikabarkan sudah menyetujui penambahan pasukan di kawasan itu. Seorang pejabat tinggi pemerintahan Trump memberi penjelasan blak-blakan soal rencana pembukaan Selat Hormuz.
"Jika [Trump] memutuskan untuk melakukan invasi pantai, itu akan terjadi. Tetapi keputusan itu belum dibuat," katanya.
Trump sendiri sebelumnya sudah melontarkan ancaman terbuka. Lewat unggahan di media sosial, ia menyombongkan serangan bom yang ia klaim sebagai salah yang paling dahsyat di Timur Tengah, yang menghancurkan target militer di Pulau Kharg yang ia sebut "permata mahkota" Iran. Ia juga tak segan mengancam akan menyerang infrastruktur minyak pulau itu lebih lanjut.
Semua pernyataan ini menggambarkan ketegangan yang makin memanas. Di satu sisi, ada kepercayaan diri yang terkesan menggertak. Di sisi lain, ada risiko perang terbuka yang konsekuensinya tak terbayangkan.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Purbaya Tegaskan Tak Gelar Open House Lebaran 2026
BCL Sibuk Masak Rendang 25 Kg dan Kue Cokelat untuk Tradisi Lebaran
Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia Rayakan Lebaran di Papua, Waketum Pimpin Salat Id di Kantor DPP
SBY Pimpin Salat Id di Cikeas, Dihadiri AHY dan Sejumlah Tokoh