Gelombang pertama berasal dari cadangan sektor swasta, setara dengan konsumsi minyak selama 15 hari. Tidak berhenti di situ. Pemerintah bakal melepas cadangan miliknya sendiri setara 30 hari konsumsi pada akhir bulan ini.
Kalau dijumlahkan, totalnya sekitar 80 juta barel minyak atau setara konsumsi domestik selama 45 hari akan mengalir ke pasar secara bertahap. Angka yang fantastis. Cadangan pemerintah sendiri sebenarnya masih sangat besar, tersimpan di 10 lokasi seperti Hokkaido hingga Kagoshima, cukup untuk kebutuhan 146 hari.
Dilema Logistik dan Kapal Raksasa
Di balik angka-angka besar itu, terselip persoalan teknis yang pelik. Pemerintah kini sedang sibuk mempersiapkan penjualan sebagian cadangan itu ke perusahaan penyulingan. Soalnya, minyak yang disimpan masih dalam bentuk mentah. Artinya, ia harus diangkut dulu menggunakan kapal tanker besar menuju kilang-kilang pengolahan.
Di sinilah kebutuhan akan kapal berukuran raksasa menjadi krusial. Seorang eksekutif di perusahaan penyulingan dengan gamblang menjelaskan tantangannya.
Jadi, intinya sederhana: punya stok minyak banyak itu bagus, tapi kalau tak bisa mengangkutnya dengan cepat dan efisien, ya percuma. Semua mata kini tertuju pada keputusan pemerintah mengenai izin untuk kapal asing itu.
Artikel Terkait
Jadwal Salat dan Panduan Zakat Fitrah untuk Warga Denpasar di Akhir Ramadan 1447 H
Polisi Tangkap Pria di Parung, Sita 200 Butir Obat Keras T-Rex
Korlantas Berlakukan Sistem Satu Arah Nasional untuk Arus Mudik Lebaran 2026
Drama Turbulent Love Tayang 16 Maret 2026, Usung Kisah Polisi Penyamar dan Pewaris Mafia