Di sisi lain, upaya mengurai kemacetan sudah dilakukan. Di lapangan, koordinasi digenjot oleh BPTD Bali bersama polisi, operator kapal, hingga pemerintah daerah. Laporan dari PT ASDP sampai Selasa dini hari (17/3) menggambarkan situasi yang serba padat. Gilimanuk dipenuhi kendaraan kecil dan logistik. Begitu pula di Ketapang, truk-truk besar mendominasi jalan menuju pelabuhan.
Untuk mengatasinya, jumlah kapal penyeberangan ditingkatkan. Dari yang biasanya 28 unit, kini ada 35 kapal yang beroperasi dengan pola delapan trip. Rinciannya, 19 kapal di dermaga MB, 11 di LCM, dan 4 lagi sebagai tambahan. Skema Tiba-Bongkar-Berangkat (TBB) juga diterapkan biar putaran kapal lebih cepat, sekaligus memperlancar arus kendaraan kecil.
Namun begitu, kepadatan ini agak rumit. Soalnya, berbarengan dengan penyesuaian jadwal menyambut Hari Raya Nyepi di Bali. Layanan penyeberangan dari Ketapang (Jawa Timur) akan berhenti Rabu (18/3) sore pukul 17.00 WIB. Sementara dari Gilimanuk (Bali) ditutup Kamis (19/3) pagi pukul 05.00 WITA.
Baru akan dibuka lagi Jumat (20/3) pukul 06.00 WITA, setelah hari suci itu usai. Penyesuaian serupa berlaku untuk rute Padang Bai-Lembar. Aktivitas pelayaran dihentikan sementara selama Nyepi dan berlanjut setelahnya.
Jadi, persoalannya dua lapis: tingginya volume mudik dan kepatuhan terhadap aturan pembatasan barang. Semuanya berujung pada satu harapan: perjalanan pulang kampung yang aman dan tidak berlarut-larut.
Artikel Terkait
TASPEN Lepas 35 Bus untuk Mudik Gratis, 1.400 Pemudik Dijamin Asuransi
Dosen Laporkan Penumpang KRL ke Polisi atas Tuduhan Pencemaran Nama Baik
Arus Mudik di Tol Cipali Mulai Ramai, Puncak Diprediksi 18-20 Maret
Panglima TNI Hidupkan Kembali Jabatan Kepala Staf Teritorial