Kabarnya, Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, terbang diam-diam ke Rusia. Ini terjadi tak lama setelah beredar isu bahwa dia terluka akibat serangan gabungan AS dan Israel. Tujuannya? Menjalani operasi darurat.
Menurut laporan yang beredar, evakuasi rahasia ini dilakukan dengan pesawat militer Rusia. Mojtaba dikabarkan dalam kondisi yang cukup parah, sehingga harus segera dibawa ke Moskow. Operasi penyelamatan untuk kakinya itu, konon, bahkan dilakukan di istana kepresidenan Vladimir Putin sendiri.
Namun begitu, di tengah semua rumor tentang kesehatannya, Mojtaba sempat merilis sebuah pernyataan. Isinya penuh kemarahan, menuntut balas dendam terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Laporan dari surat kabar Kuwait, Al-Jarida, memberikan gambaran yang lebih suram. Mereka menyebut serangan AS-Israel itu tidak hanya menewaskan Ayatollah Khamenei, tapi juga ibu serta istri Mojtaba, bahkan anak lelakinya. Mojtaba sendiri dikabarkan baru bisa dievakuasi dari bunker yang hancur itu.
Dari sana, dia kemudian "diselundupkan" keluar Iran. Menuju Rusia, untuk operasi rahasia yang diharapkan bisa menyelamatkan nyawanya.
Sekarang, spekulasi terus berembus. Kepergian diam-diam sang pemimpin baru Iran ini meninggalkan banyak tanda tanya tentang situasi sebenarnya di Tehran dan kondisi fisiknya yang sesungguhnya.
Artikel Terkait
Riau Kembali Terima Satu Helikopter Water Bombing, Total Armada Udara Capai Enam Unit
Manuel Neuer Catat Rekor Penampilan Terbanyak Kiper di Piala Dunia Usai Tampil ke-21 Kali
LMND Ajak Masyarakat Aktif Kawal Program Strategis Pemerintah Demi Tepat Sasaran
Pria Boncengan dengan Ibu Jadi Korban Begal di Sukaraja, Pelaku Bawa Kabur Motor