Dalam kesempatan itu, Naini juga mengungkapkan angka yang cukup mencengangkan. Klaimnya, Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone yang menargetkan aset Amerika Serikat dan Israel. Serangan-serangan itu digambarkannya sebagai bagian dari upaya menghukum pihak agresor.
"Kami berusaha menghukum pihak agresor dan akan terus melanjutkan serangan berat dan destruktif terhadap musuh,"
tambahnya.
Menurut Naini, perang baru akan berakhir ketika apa yang disebutnya sebagai "musuh" mengakui kekuatan militer dan kemampuan penangkal Iran. Pernyataan-pernyataan panas ini muncul di tengah eskalasi yang sudah berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Pemicunya adalah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu dikabarkan menewaskan sekitar 1.300 orang. Korban yang jatuh termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gelombang serangan drone dan rudal. Sasaran tidak hanya Israel, tetapi juga meluas ke Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang diketahui menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Langkah strategis lain yang diambil Teheran adalah menutup Selat Hormuz secara efektif sejak awal Maret. Ini bukan langkah sepele. Selat itu adalah jalur laut super penting, salah satu arteri utama pengiriman minyak mentah dunia. Penutupannya tentu mengguncang pasar global dan menambah suhu ketegangan yang sudah panas.
Artikel Terkait
Wamendagri: Musrenbang Kunci Perencanaan Pembangunan Daerah
RJ2 Dukung Penuntasan Kasus Penyekriman Aktivis Kontras Andrie Yunus
Polisi Periksa Tujuh Saksi dalam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
BNPB Pastikan Huntap Korban Bencana Aceh Utara Dilengkapi Fasilitas Lengkap