"Enam belas orang yang mengalami heat syncope sudah kami tangani dan dinyatakan bisa melanjutkan perjalanan. Sementara satu orang lainnya mengalami vulnus laceratum atau luka robek," jelas Adi lebih lanjut.
Untuk korban dengan luka robek itu, tim medis sudah melakukan penjahitan serta memberikan obat-obatan yang diperlukan. Tapi, yang bikin hati trenyuh, korban kemacetan ini bukan cuma orang dewasa.
Seorang bayi bahkan sudah lebih dulu dievakuasi personel polisi pada Sabtu (14/3) malam. Bayi itu, bersama orang tuanya, harus dilarikan ke Pos Pelayanan Cargo setelah menunjukkan gejala tidak sehat. Penyebabnya sama: terjebak macet berjam-jam tanpa kepastian.
Gambaran ini jelas menunjukkan betapa brutalnya dampak kemacetan yang berkepanjangan. Bukan sekadar soal waktu yang terbuang, tapi nyawa dan kesehatan yang jadi taruhannya.
Artikel Terkait
Kapolda Metro Jaya Tegaskan Penyelidikan Penyiraman KontraS Gunakan Metode Ilmiah
Trauma Kucing Mati di Titipan, Pemudik Pilih Bawa Hewan Peliharaan Langsung ke Kampung Halaman
Iran Tantang Trump Kirim Kapal Perang ke Teluk Persia, Klaim Kendali Penuh Selat Hormuz
Proses Pengukuran Tanah Sengketa Hotel Sultan Dimulai, Kuasa Hukum Apresiasi Langkah Pengadilan